Vesakha Sananda Waisak 2026 Ditutup Tepat pada Momentum Hari Anak Nasional
- 24 Jul 2026 21:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Vesakha Sananda Waisak tahun 2026 menjadi momen luar biasa umat Buddha di mana para bikkhu thudong dari negara Thailand, Malaysia, Laos, dan tuan rumah Indonesia singgah selama dua hari di Yogyakarta. Umat Buddha dan masyarakat Yogyakarta berhasil menjadi tuan rumah yang tetap menjaga toleransi dan keberagaman dalam momen tersebut.
Hal tersebut diungkap Pembimas Buddha Kemenag DIY, Pandu Dinata, S.Kom, MPd. Acara yang berlangsung di Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta (Kanwil Kemenag DIY) menjadi saksi penutupan rangkaian peringatan Vesakha Sananda Waisak 2570 TB/2026 pada Kamis, 23 Juli 2026.
“Ada 14 kegiatan rangkaian Waisak tahun 2026 ini, lebih banyak dari tahun lalu. Di tengah efisiensi yang ada, umat Buddha saling membantu demi suksesnya acara. Puncaknya, penyambutan para bikkhu thudong yang lancar dan sukses,” ucap Pandu di depan para tokoh agama Buddha, pengurus majelis, dan perwakilan umat dari berbagai daerah di DIY. Acara ini berlangsung hangat dan khidmat, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN).

Sinergi nilai Waisak dan perlindungan anak
Dalam sambutannya, Pandu Dinata menekankan bahwa semangat Waisak harus terus dihidupkan terutama dalam membangun harmonisasi sosial dan keluarga. Memperkuat kerja sama umat dengan pemerintah daerah dalam mengawal perlindungan hak anak.
"Momentum penutupan Vesakha Sananda hari ini terasa istimewa karena bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Ajaran Buddha mengajarkan kita kasih sayang (Metta) dan belas kasih (Karuna) universal, yang harus dimulai dari unit terkecil yaitu anak-anak kita," ujarnya.
Sosialisasi RANA: melindungi generasi penerus
Tak sekadar penutupan seremoni Waisak, agenda dilanjutkan dengan Sosialisasi Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (RANA) sebagai langkah konkrit pembinaan umat Buddha di lingkungan DIY. Program RANA diinisiasi untuk memastikan rumah ibadah (Vihara/Cetiya) serta lingkungan pendidikan keagamaan Buddha (Dhammasekka) menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Beberapa poin penting dalam sosialisasi RANA meliputi:
- Lingkungan Bebas Kekerasan: Memastikan Vihara dan Sekolah Minggu Buddha menjadi kawasan bebas dari kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis.
- Pendidikan Karakter Berbasis Dhamma: Menanamkan nilai-nilai moralitas (Sila) sejak dini melalui metode pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif.
- Partisipasi Aktif Anak: Memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkreasi, menyatakan pendapat, dan terlibat dalam kegiatan keagamaan yang sesuai dengan usia mereka.
Melalui kegiatan ini, Bimas Buddha Kemenag DIY berharap pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan keagamaan tidak lagi memiliki ruang bagi kekerasan fisik, seksual, maupun digital.Semangat kebersamaan dan komitmen perlindungan anak terus berlanjut demi melahirkan generasi emas yang berkarakter, bijaksana, dan berakhlak mulia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....