Pasca Kasus Gangguan Pencernaan, SPPG Karangwuni Minta Investigasi Menyeluruh
- 24 Jul 2026 19:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Kulon Progo — Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni mendorong dinas terkait melakukan penanganan dan investigasi menyeluruh atas dugaan gangguan pencernaan yang dialami puluhan siswa SMP Negeri 3 Wates, Selasa, 21 Juli 2026. Pada hari tersebut, sejumlah siswa SMP Negeri 3 Wates mengeluhkan gejala mual dan diare.
Dugaan awal mengarah pada konsumsi menu Makan Bergizi Gratis atau MBG yang dibagikan pada Senin 20 Juli 2026. Menu yang disajikan terdiri dari nasi putih, ayam saus BBQ, ca pakcoy, tahu goreng bawang, dan buah anggur. Gejala gangguan pencernaan dilaporkan timbul secara bertahap sekitar 12 jam setelah waktu konsumsi.
Berdasarkan data lapangan hingga Selasa pagi, tercatat 115 siswa mengeluhkan sakit perut dan diare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 27 siswa dirujuk ke Puskesmas Wates untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan. Kejadiaan di SMPN 3 Wates ini merupakan kejadian kedua, setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun lalu dengan penyedia berbeda.
Asisten Lapangan SPPG Karangwuni, Fajar Pramono, menyampaikan bahwa kondisi para siswa yang dirujuk ke puskesmas sudah membaik pasca kejadian.
"Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan, siswa terdampak masih dalam observasi. Tidak ada siswa yang memerlukan tindakan rawat inap atau pemasangan infus. Setelah mendapatkan penanganan dan edukasi kesehatan, para siswa diantarkan ke sekolah dan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing," ujarnya, Jumat 24 Juli 2026.
Fajar, menjelaskan, alur pendistribusian makanan ke sekolah pada Senin 20 Juli 2026, dimana makanan diantar pada pukul 09.30 WIB dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 11.15 WIB.
Sebelumnya, lanjut Fajar, SPPG menjadwalkan pengantaran pada pukul 08.30 WIB sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Namun, atas permintaan pihak sekolah agar kantin dapat beroperasi pada jam istirahat pertama (pukul 09.00 WIB), waktu pendistribusian MBG disepakati digeser menjadi pukul 09.30 WIB untuk dikonsumsi siang hari.
Namun ia menggarisbawahi sejumlah temuan lapangan, dimana dari total 38 sekolah dan 6 posyandu yang menerima kiriman menu MBG pada hari Senin lalu, laporan gangguan pencernaan hanya ditemukan di SMPN 3 Wates. Di lokasi lain, menu tersebut dikonsumsi oleh siswa, guru, hingga relawan tanpa ada keluhan kesehatan, bahkan ada yang mengonsumsinya hingga sore dan malam hari.
Adanya kejanggalan tersebut memicu masukan, dari sejumlah orang tua siswa dan tenaga pendidik agar pemeriksaan tidak hanya berfokus pada menu MBG, tetapi juga mencakup sanitasi di lingkungan sekolah.
"Sekolah lain yang menerima menu sama ternyata aman. Kami ada aspirasi dari wali siswa dan guru agar investigasi juga dilakukan terhadap kebersihan lingkungan, termasuk area kantin. Letak kantin yang berdekatan dengan toilet sekolah perlu juga di evaluasi terkait kebersihan dan kelayakan sanitasi," ucapnya.
Dinas Kesehatan Kulon Progo bergerak cepat melakukan investigasi terkait dugaan kasus keracunan makanan yang berdampak pada sejumlah siswa SMP Negeri 3 Wates tersebut.
Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, mengatakan, investigasi dilakukan dengan mengambil sampel makanan yang disimpan SPPG) Karangwuni, melakukan pendalaman informasi dengan pengelola, hingga mengumpulkan bukti pendukung lainnya.
"Kami juga meminta rekaman CCTV," ujarnya.
Berdasarkan keterangan pengelola SPPG Karangwuni, menu yang disajikan, didistribusikan kepada sekitar 3.000 sasaran, termasuk para siswa sekolah. Pengolahan bahan makanan dimulai sejak Minggu malam saat pengelola menerima pasokan 249 kilogram daging ayam segar.
Bahan tersebut sempat disimpan di dalam freezer sebelum akhirnya dimasak pada Senin dini hari mulai pukul 02.00 WIB. Proses memasak dilakukan dalam empat kloter dengan durasi masing-masing 45 menit.
Dari hasil penelusuran awal, Dinkes Kulon Progo mengidentifikasi beberapa faktor yang berpotensi menjadi pemicu keracunan. Salah satunya adalah jeda waktu antara proses memasak dan waktu konsumsi yang cukup panjang, yakni berkisar 8-10 jam.
Selain itu, tahapan pembuatan yang kompleks juga dinilai rawan memicu kontaminasi silang (cross-contamination). Daging ayam sendiri tergolong bahan pangan berisiko tinggi dan rentan terpapar bakteri seperti Salmonella. SPPG Karangwuni diketahui telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Meskipun kuantitas sampel makanan yang disimpan pihak SPPG tergolong sedikit, Dinkes Kulon Progo tetap mengamankan sampel beserta sampel muntahan dari para korban untuk diuji di laboratorium.
Hasil laboratorium diperkirakan baru akan keluar dalam waktu sekitar dua pekan ke depan. "Kami terus berkoordinasi dengan pengelola SPPG untuk proses investigasi ini," kata dia, menandaskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....