UGM dan BRIN Optimalkan Pangan Lokal untuk Cegah Stunting di Gunungkidul
- 23 Jul 2026 14:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Gunungkidul, serta RS Panti Rahayu Gunungkidul mengembangkan program pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat di Kapanewon Paliyan, Gunungkidul.
Program tersebut mendorong pemanfaatan komoditas pangan yang mudah dijumpai di wilayah setempat untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, terutama bagi ibu hamil dan balita. Ibu hamil menjadi sasaran utama karena pencegahan stunting dinilai harus dimulai sejak masa kehamilan.
Ketua Program Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM Digna Niken Purwaningrum, mengatakan kegiatan edukasi tersebut menitikberatkan pada peningkatan kesehatan dan status gizi ibu sebagai bagian penting dalam mencegah stunting.
“Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan tumbuh kembang anak, sehingga dukungan terhadap kesehatan dan kecukupan gizi ibu hamil menjadi salah satu investasi terbaik untuk mencegah stunting di masa depan,” kata Digna Niken Purwaningrum, Rabu, 22 Juli 2026.
Dalam program ini, tim memanfaatkan dua bahan pangan lokal yang melimpah di wilayah Paliyan, yakni tempe dan pisang Utri.
Digna menjelaskan, tempe memiliki kandungan protein nabati berkualitas tinggi yang kaya protein, zat besi, kalsium, seng, folat, vitamin B, serta senyawa bioaktif hasil fermentasi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan memiliki aktivitas antioksidan.
Sementara pisang Utri mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, serat pangan, kalium, vitamin B6, vitamin C, serta senyawa fenolik yang juga berperan sebagai antioksidan.
Melalui penelitian dan analisis kandungan gizi yang dilakukan Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, kedua bahan tersebut kemudian diformulasikan menjadi produk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.
“Kombinasi zat gizi makro, mikronutrien, dan senyawa bioaktif dari tempe dan pisang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi ibu menyusui dan anak sebagai upaya pencegahan stunting melalui pola makan bergizi seimbang,” ujarnya.
Memasuki tahun kedua pelaksanaan program pada 2026, cakupan kegiatan diperluas dengan melibatkan lima kalurahan baru, yakni Giring, Grogol, Mulusan, Pampang, dan Sodo.
Selain memperluas wilayah sasaran, program juga mengembangkan fokus pendampingan dari ibu hamil menjadi ibu menyusui. Edukasi yang diberikan meliputi pemenuhan gizi setelah persalinan, pemberian ASI eksklusif, hingga penyusunan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai kebutuhan.
“Sepanjang 2025, kami berhasil mengembangkan PMT berbasis tempe dan pisang, melatih para kader, dan mendistribusikannya 24 kali kepada 51 ibu hamil di tujuh desa wilayah Puskesmas Paliyan,” ucap Digna.
Sebagai penanda dimulainya program tahun kedua, FK-KMK UGM bersama para mitra menggelar Kick-Off Meeting Program Pengabdian Masyarakat bertajuk "Penguatan dan Perluasan Program Gizi Berbasis Pangan Lokal: Pendekatan Peer Trainer dan Kader untuk Ibu Hamil dan Menyusui" pada 7 Mei 2026 di Balai Kapanewon Paliyan, Gunungkidul.
Pertemuan tersebut juga menghasilkan kesepakatan mengenai strategi pelaksanaan program tahun ini sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat.
Salah satu inovasi yang dikembangkan pada tahun kedua adalah penerapan pendekatan peer trainer. Model ini melibatkan kader dan ibu binaan pada program tahun pertama untuk menjadi pendamping sekaligus pelatih bagi kader baru di wilayah sasaran.
Menurut Digna, pendekatan berbasis komunitas tersebut dinilai lebih efektif karena materi disampaikan oleh masyarakat yang memahami kondisi sosial dan tantangan di lingkungan mereka sendiri.
“Selain mempercepat transfer pengetahuan, pendekatan peer trainer juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap program sehingga mereka dapat menjalankan program secara mandiri,” ujar Digna.
Ia menilai keberhasilan sebuah program sangat bergantung pada kesesuaiannya dengan kebutuhan masyarakat serta kolaborasi yang kuat antarberbagai pihak.
Karena itu, FK-KMK UGM bersama para mitra berkomitmen melanjutkan berbagai inovasi berbasis masyarakat guna meningkatkan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, maupun kelompok rentan lainnya.
Ke depan, Digna berharap pemanfaatan pangan lokal dapat menjadi contoh bahwa bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat memiliki potensi besar dalam mendukung pencegahan stunting apabila diolah secara tepat.
Ia juga berharap inovasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai menu PMT di berbagai daerah, direplikasi oleh kader kesehatan, sekaligus membuka peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk pangan lokal.
“Saya berharap kolaborasi yang baik ini dapat terus berlanjut dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di masa mendatang,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....