Menyeimbangkan Jasmaniah dan Ruhaniah dalam Segala aktivitas

  • 22 Jul 2026 23:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Manusia pada hakikatnya dibentuk dari perpaduan antara jasmani dan rohani. Namun, dalam realitas kehidupan pembahasan mengenai keagamaan sering kali disempitkan sebatas pada pemahaman aspek rasional, logika, lahiriah, dan aturan-aturan syariat. Aspek syariat ini mencakup amal perbuatan lahir yang dapat dilihat, seperti tata cara beribadah dan pemenuhan rukun-rukunnya secara fisik.

Meskipun dimensi syariat fisik diperlukan sebagai panduan normatif kehidupan dan bersumber langsung dari Al Qur'an serta Al Hadits, tak jarang manusia melalaikan dimensi rohani. Padahal menurut Ustadz Ahmad Masrusi, SAg. dalam siaran religi di PRO4 RRI Yogyakarta mengatakan bahwa struktur manusia memiliki kompleksitas yang terdiri atas tiga komponen utama yang saling berkaitan yakni Ar-Ruh (Ruh), Al-Qalb (Hati), dan An Nafs (Jiwa).

Ustadz Masrusi mnyebut dalam ajaran Islam, ruh dipandang sebagai unsur suci yang ditiupkan langsung oleh Alloh SWT. Karena bersumber dari kesucian, ruh senantiasa memiliki kecenderungan alami untuk merindukan kebaikan, kedamaian, serta bersaksi atas keagungan Penciptanya.

Menurutnya Ruh yang bersemayam dalam diri manusia ini memiliki keterkaitan erat dengan sifat-sifat kebaikan, seperti cinta (Mahabbah) dan kasih sayang. Maka ruh dalam diri manusia sejatinya membawa percikan nilai-nilai kebaikan illahi yang menuntut untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun manusia dibekali ruh yang suci, dalam perjalanan hidupnya, dimensi ini sering kali mengalami kegelapan dengan adanya batas/hijab spiritual. Hijab spiritual ini muncul akibat dari dominasi nafsu, cinta berlebih pada materi keduniawian, serta tumpukan dosa dan kekotoran batin.

Oleh sebab itu, menurut Ustadz Masrusi sangat penting bagi setiap individu untuk senantiasa melakukan pembersihan diri secara konsisten. Jiwa yang bersih akan kembali memancarkan keindahan , membawa ketenangan, dan menghadirkan kekhusyukan dalam beribadah juga dalam interaksi sosial.

Ia menyebut dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, Banyak manusia yang terjebak dalam kesibukan duniawi hingga melupakan penciptanya. Ketika urusan materi, kekayaan, dan jabatan dikejar semata-mata demi memuaskan hawa nafsu. Menurutnya tindakan itulah yang menjauhkan manusia dari ketenangan batin karena bertolak belakang dengan kebenaran rohani dan hati nurani.

Di akhir ceramahnya, Ia menegaskan bahwa kelapangan hati, keikhlasan, dan kepatuhan terhadap syariat mendatangkan ketenangan hidup yang luar biasa. Ketenangan dan kebahagiaan batin yang didapatkan di dunia ini sejatinya merupakan cerminan surga kecil sebelum menuju akhirat. Sebaliknya, jiwa yang lalai, penuh iri dengki, dan menjauh dari aturan Alloh SWT akan membuat kesempitan hidup,melelahkan, layaknya sebuah neraka di dunia. Oleh karena itu, menjaga keselarasan antara tindakan lahiriah dan kesucian batin menjadi kunci utama dalam meraih keselamatan hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....