Kecanduan Scrolling? Yuk, Rajin Olahraga Untuk Seimbangkan Fungsi Otak

  • 19 Jul 2026 10:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kebiasaan berolahraga dinilai dapat menjadi penyeimbang gaya hidup sedentari yang banyak dialami masyarakat, terutama akibat aktivitas scrolling media sosial dalam waktu lama. Namun, menjaga kesehatan otak tidak hanya bergantung pada aktivitas fisik, tetapi juga pada lancarnya aliran darah dan oksigen menuju otak.

Dosen Fisiologi FK-KKM UGM, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, menjelaskan bahwa penurunan fungsi otak lebih dipengaruhi kebiasaan duduk terlalu lama dibanding aktivitas scrolling itu sendiri. “Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen,” ujarnya.

Menurutnya, posisi tubuh juga memengaruhi distribusi darah akibat gaya gravitasi. Saat bangun tidur, seseorang disarankan tidak langsung berdiri, melainkan memulai dengan berbaring miring sekitar 30 detik, kemudian duduk sambil berdoa selama 30 detik, sebelum berdiri perlahan dan melakukan gerakan jinjit sekitar delapan kali untuk membantu melancarkan aliran darah ke otak.

Ia juga mengingatkan bahaya duduk terlalu lama karena dapat mengurangi suplai darah ke otak. “Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi,” katanya.

Karena itu, masyarakat disarankan membatasi waktu duduk maksimal satu jam. Setelahnya, lakukan aktivitas ringan seperti berdiri, berjalan, atau peregangan selama sekitar dua menit sebelum kembali bekerja atau belajar.

Berdasarkan penelitian menggunakan orthostatic test, Zaenal menyebut kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi dipengaruhi kondisi jantung, paru-paru, dan sistem sirkulasi darah. “Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan,” katanya.

Ia menambahkan, olahraga kini menjadi bagian dari terapi kesehatan melalui konsep Exercise is Medicine. Seperti obat, olahraga harus dilakukan dengan jenis, dosis, intensitas, frekuensi, dan durasi yang tepat. “Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri,” ujarnya.

Meski demikian, Zaenal mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan berolahraga. Aktivitas fisik berintensitas tinggi setelah makan berisiko mengganggu kerja jantung karena tubuh masih fokus pada proses pencernaan. “Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan resiko gangguan jantung bahkan kematian mendadak,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat menghindari olahraga berat, termasuk berenang, sesaat setelah makan karena dapat memicu kram maupun gangguan jantung.

Agar manfaat olahraga optimal bagi kesehatan tubuh dan otak, Zaenal menyarankan aktivitas yang melibatkan kelompok otot besar, dilakukan secara ritmis, serta berlangsung kontinu selama 30–40 menit. “Dengan cara seperti itulah olahraga dapat meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membantu menjaga fungsi otak tetap optimal,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....