Rawan Erupsi, SMPN 2 Pakem Gelar Edukasi Mitigasi Bencana di MPLS Hari Pertama
- 13 Jul 2026 14:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Sebanyak 128 siswa baru di SMPN 2 Pakem mengikuti gelaran edukasi kebencanaan pada hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), Senin, 13 Juli 2026. Pada kesempatan ini, sekolah turut menggandeng BPPTKG untuk menyampaikan berbagai langkah mitigasi bencana. Mulai dari pengenalan titik kumpul, jalur evakuasi, hingga penyiapan tas siaga. Staf Penyebaran Informasi Kebencanaan Geologi BPPTKG Noer Cholik menyebut edukasi disampaikan melalui media permainan. Diantaranya adalah permainan menebak istilah yang berkaitan dengan kebencanaan. Ada pula edukasi terkait pentingnya menyiapkan tas siaga beserta isinya.
“Menurut kami penting untuk melatih refleks mereka dan melatih kesiapsiagaan. Menyiapkan dokumen-dokumen penting ketika nanti harus evakuasi itu mereka paham apa yang dibawa. Kemudian ada games gerak cepat untuk memancing anak-anak tentang istilah yang digunakan dalam kebencanaan,” kata Cholik saat ditemui di SMPN 2 Pakem, Senin, 13 Juli 2026.
Cholik menyebut edukasi mitigasi bencana penting untuk dilakukan. Terlebih, SMPN 2 Pakem hanya berjarak 13-14 kilometer dari Gunung Merapi. Kebanyakan siswa juga berdomisili di daerah rawan bencana seperti wilayah Ngandong dan Cangkringan. Selain itu, Cholik mengatakan SMPN 2 Pakem juga berdekatan dengan sungai yang berhulu di Merapi seperti Sungai Boyong, Sungai Kuning yang berpotensi terjadi banjir lahar ketika erupsi. Selain erupsi, siswa juga diajak untuk mengenali berbagai potensi bencana lainnya seperti bencana hujan abu hingga angin kencang. Cholik mengatakan pihaknya akan kembali menggelar edukasi mitigasi bencana di sekolah yang berada di lingkar Merapi. Diantaranya adalah SMP Negeri 2 Dukun di Kabupaten Magelang, SMK Negeri Selo di Boyolali, dan SD Rejodadi di Kabupaten Bantul.
“Jangan sampai mereka tinggal di mana tapi tidak tahu potensinya (bencana) di sekitar apa,” ucapnya.
Sementara, salah satu siswa baru di SMPN 2 Pakem, Joahim Dimas Purayoan menyebut dia tinggal di kawasan Kaliurang Timur. Jodi, sapaannya, mengaku pernah merasakan dampak dari erupsi Gunung Merapi 2010 dan bahkan sempat mengungsi. Dia ingat betul bagaimana kondisi hujan abu yang terjadi saat erupsi terjadi. Di sisi lain, Jodi mengaku senang dengan edukasi bencana yang digelar oleh sekolahnya bersama BPPTKG. Dia juga menyebut sudah sering mendapatkan edukasi terkait mitigasi bencana.
“Waktu SD pernah diberi edukasi soal mitigasi bencana di Tlogo Putri. Pesannya ya hati-hati karena Gunung Merapi sedang bahaya (status siaga),” ujar Jodi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....