UGM Kembangkan Benih Kedelai Lokal Demi Kurangi Ketergantungan Impor
- 02 Jul 2026 21:44 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Tingginya konsumsi kedelai di Indonesia masih belum diimbangi dengan kemampuan produksi dalam negeri. Dari kebutuhan nasional sekitar 2,7 juta ton per tahun, hampir 90 persen pasokan masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut mendorong tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan ekosistem kedelai lokal sebagai upaya memperkuat kemandirian pangan nasional.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui program Smart Agricultural Enterprise (SAE) Kedelai yang dirancang untuk membangun sistem perkedelaian terpadu, mulai dari penyediaan benih unggul, pendampingan petani, hingga penguatan rantai pasok. Melalui program ini, tim peneliti UGM berhasil menghasilkan benih kedelai yang telah memenuhi standar sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Kami memulainya secara bertahap melalui kelompok-kelompok penangkar benih. Berbagai uji coba kami lakukan hingga memperoleh kesimpulan bahwa produktivitas, kualitas, dan kandungan protein kedelai lokal dapat ditingkatkan," kata Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Atris Suyantohadi, selaku anggota tim peneliti, saat ditemui di Fakultas Teknologi Pertanian, Rabu, 1 Juni 2026.
Menurut Atris, upaya mewujudkan swasembada kedelai tidak cukup hanya meningkatkan produksi, tetapi juga harus membangun ekosistem yang menghubungkan petani, industri, dan pasar agar memberikan nilai ekonomi yang berkelanjutan.
“Tujuan kami adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi kedelai lokal dengan membangun sebuah ekosistem yang utuh,” katanya.

Atris menjelaskan, riset pengembangan kedelai telah dimulai sejak 2012. Selama proses tersebut, tim peneliti menemukan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menghasilkan varietas unggul, melainkan menciptakan kepastian usaha bagi petani agar terus menanam kedelai.
"Petani tentu tidak akan tertarik menanam kedelai lokal apabila mereka belum memperoleh kepastian mengenai siapa yang akan membeli hasil panennya, bagaimana jaminan pasarnya, serta bagaimana teknik budidayanya,” ucapnya.
Untuk itu, UGM memperluas pendampingan kepada kelompok tani di berbagai daerah, seperti Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, Sragen, dan wilayah lainnya. Pendampingan tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, tetapi juga menjembatani kemitraan dengan industri sebagai off-taker agar hasil panen memiliki kepastian pasar.
"Pada tahun 2026, kedelai yang dihasilkan petani binaan kami berhasil memperoleh sertifikasi keamanan pangan bersama off-taker industri," ujar Atris.
Peran off-taker dijalankan oleh CV Java Agro Prima yang menyerap hasil panen sekaligus memastikan produk memenuhi standar keamanan pangan.
Selain meningkatkan produktivitas, tim peneliti UGM juga mulai menerapkan pendekatan pertanian modern melalui pemanfaatan teknologi digital. Pengembangan budidaya kedelai diarahkan agar mampu menghasilkan produk yang lebih kompetitif dan sesuai kebutuhan pasar.
"Ke depan, kami membayangkan adanya gudang modern, sistem budidaya modern, hingga pengelolaan kedelai yang mumpuni," ujarnya.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah penggunaan Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas benih secara real time. Kabupaten Bantul menjadi salah satu lokasi pendampingan penerapan teknologi tersebut.
Atris menuturkan, sebelum program berjalan, sebagian besar petani masih bergantung pada bantuan benih dan pupuk pemerintah serta menggunakan metode budidaya konvensional. Akibatnya, hasil panen belum memberikan nilai ekonomi yang optimal sehingga minat menanam kedelai relatif rendah.
“Karena itu, alih-alih menggelontorkan dana terus menerus, kita harus benahi terlebih dahulu kapasitas petani, baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan,” katanya.
Ia menegaskan, pengembangan ekosistem kedelai merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui riset yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan sektor pertanian nasional.
“Harapannya, hasil-hasil hilirisasi dari hulu ke hilir ini harus benar-benar mengalir hingga dapat dirasakan masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat lah yang akan menilai,” katanya.
Komitmen tersebut juga mendapat perhatian pemerintah. Dalam pertemuan tim peneliti UGM dengan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Jakarta pada 29 Juni 2026, Kementerian Pertanian menyatakan siap menjalin kerja sama untuk memperkuat produksi kedelai lokal sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Dalam kesempatan itu, Mentan menyampaikan bahwa varietas kedelai hasil pengembangan UGM memiliki keunggulan karena bersifat non-genetically modified organism (non-GMO) dengan ukuran biji lebih besar dibandingkan kedelai impor. Pemerintah pun berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000 hingga 2.000 hektare di Jawa Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....