nDalem Natan Hidupkan Kembali Jejak Rumah Kalang Kotagede
- 30 Jun 2026 13:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pelestarian bangunan cagar budaya tidak hanya bertujuan menjaga jejak sejarah, tetapi juga memastikan warisan tersebut tetap memiliki fungsi dan manfaat bagi masyarakat. Semangat itu diwujudkan melalui nDalem Natan Royal Heritage di Kotagede, sebuah Rumah Kalang yang berhasil dipugar dan dihidupkan kembali sebagai destinasi wisata sejarah, budaya, dan edukasi.
Bangunan yang dimiliki Nasir Tamara ini mendapat perhatian karena keberhasilannya menjaga nilai sejarah sekaligus mengembangkan fungsi baru tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya. Atas dedikasinya tersebut, Nasir Tamara menerima Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY Tahun 2021 pada kategori Pelestari dan/atau Pelaku Warisan Budaya dan Cagar Budaya.
Manajer nDalem Natan Royal Heritage, Sri Utaminingsih atau Tami, menjelaskan bangunan tersebut sebelumnya dikenal sebagai nDalem Proyodranan, rumah milik keturunan masyarakat Kalang yang dahulu dikenal sebagai pengusaha perhiasan di kawasan Kotagede.
Rumah bersejarah itu dibangun sekitar tahun 1926, yang ditandai dengan inskripsi tahun Jawa 1857 pada bagian kuncung pendhapa. Sebagai rumah milik masyarakat Kalang, bangunan ini menggabungkan unsur arsitektur Jawa, Eropa, Tiongkok, hingga sentuhan dekorasi Timur Tengah karena pada masa itu masyarakat Kalang tidak diperkenankan membangun rumah bergaya tradisional seperti kalangan bangsawan maupun abdi dalem Keraton.
Tami mengungkapkan, Nasir Tamara membeli bangunan tersebut pada 2012 ketika kondisinya sudah mengalami kerusakan berat akibat lama tidak dihuni dan terdampak gempa Yogyakarta 2006.
"Saat dibeli kondisinya memang sudah terbengkalai lama dan kerusakannya sekitar 70 persen," ujar Tami.
Pemugaran kemudian dilakukan selama lebih dari empat tahun dengan melibatkan tenaga ahli dari berbagai daerah, termasuk perajin ukiran asal Jepara. Seluruh proses restorasi dilakukan sesuai kaidah pelestarian cagar budaya agar bentuk asli bangunan tetap terjaga.
Menurut Tami, tujuan utama pembelian rumah tersebut bukan semata untuk kepentingan bisnis, melainkan sebagai upaya menyelamatkan salah satu Rumah Kalang yang masih tersisa di Kotagede sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat.
"Tujuan utama Bapak Nasir Tamara dan Ibu Ita membeli rumah ini memang untuk melestarikan bangunan bersejarah ini. Bangunan ini kami buka untuk umum agar dapat menjadi sarana edukasi sejarah. Jadi, tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan komersial, tetapi juga sebagai media untuk melestarikan warisan budaya melalui penyampaian sejarah bangunan kepada masyarakat,” kata Tami kepada Humas Pemda DIY beberapa waktu lalu.

Sejak dibuka secara bertahap pada 2015 dan mulai beroperasi penuh pada 2017, nDalem Natan berkembang menjadi ruang publik yang memadukan fungsi penginapan, museum, galeri seni, toko buku, kafe, hingga pusat kerajinan.
Selain menikmati bangunan berarsitektur klasik, pengunjung juga diajak memahami sejarah Rumah Kalang melalui berbagai narasi yang disampaikan pengelola.
"Kami ingin masyarakat datang bukan hanya untuk menikmati bangunannya, tetapi juga memahami sejarahnya. Intinya, kami ingin ikut melestarikan warisan budaya melalui edukasi dan storytelling sejarahnya," kata Tami.
Keaslian tata ruang rumah tradisional Jawa masih dipertahankan, mulai dari pendopo, senthong, gandok, gadri, pawon hingga pekiwan. Berbagai ruang tersebut kini dimanfaatkan sesuai kebutuhan tanpa menghilangkan karakter aslinya. Museum pribadi yang berada di kompleks bangunan menyimpan koleksi benda-benda antik seperti gramofon, cap batik, buku, kaset, hingga peralatan rumah tangga tempo dulu.
Tami menjelaskan, pengembangan fasilitas seperti kafe dan toko buku dilakukan agar pengunjung memperoleh pengalaman yang lebih lengkap saat datang ke nDalem Natan.
“Awalnya rumah ini memiliki banyak kamar sehingga dimanfaatkan sebagai penginapan. Agar pengunjung dapat menikmati pengalaman yang lebih utuh, kemudian dihadirkan pula kafe dan toko buku. Bapak Nasir Tamara yang mengawali karier sebagai jurnalis memang memiliki kecintaan terhadap buku dan sejarah, sehingga muncul keinginan menghadirkan toko buku, bahkan ke depan perpustakaan. Beliau juga mengoleksi berbagai benda antik yang kini dipamerkan di museum sebagai bagian dari upaya mengenalkan sejarah dan warisan budaya kepada masyarakat," ujar Tami.
Tak hanya menjaga bangunan, pengelola juga rutin menghadirkan berbagai kegiatan budaya dengan melibatkan pelaku UMKM lokal, seperti lokakarya melukis keramik, membuat gerabah, hingga pameran seni. Beragam aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali kawasan heritage agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Tami berharap semakin banyak bangunan bersejarah di Kotagede yang terus dirawat dan dimanfaatkan sebagai bagian dari identitas budaya Yogyakarta.
"Di Kotagede masih banyak rumah-rumah tua dan situs bersejarah. Harapan kami semuanya bisa terus lestari dan dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata budaya. Yang paling penting, generasi muda dapat mengenal dan meneruskan upaya pelestarian ini," ujar Tami.
Kini, nDalem Natan Royal Heritage menjadi salah satu destinasi wisata berbasis sejarah yang tidak hanya menarik wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Kehadirannya membuktikan bahwa pelestarian bangunan cagar budaya dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan yang adaptif, sehingga memberikan manfaat edukasi, sosial, budaya, sekaligus ekonomi bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....