Puluhan Warga Caturtunggal Tak Lagi Pakai Gas Melon, Beralih ke Gas CNG

  • 19 Jun 2026 21:33 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Puluhan rumah di Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman tak lagi menggunakan gas melon atau gas elpiji ukuran 3 kilogram untuk keperluan memasak. Mereka beralih menggunakan compressed natural gas atau gas CNG

Warga RT 04 RW 02 Padukuhan Karangasem, Kalurahan Caturtunggal, Bambang Prakosa menyebut setidaknya ada 40 KK yang bermukim satu RT dengannya. Sebanyak 90 persen diantaranya sudah menggunakan gas CGN. Biasanya merupakan kalangan rumah tangga dan usaha kuliner. Sedangkan warga yang masih menggunakan gas melon kebanyakan merupakan kos-kosan. Bambang mengaku sudah memasang gas CNG ini sejak 2024. Dia turut merasakan berbagai keuntungan usai beralih dari gas melon menjadi gas CNG.

“Kalau pakai tabung kan kadang kita tengah malam direpotkan untuk mengganti tabung dan sebagainya. Tidak direpotkan dengan kalau misalkan kelangkaan gas subsidi,” kata Bambang saat ditemui di jaringan gas CNG di Jalan Affandi Nomor 55, Caturtunggal, Depok, Sleman, Jumat, 19 Juni 2026.

Dari segi harga, Bambang menuturkan tak jauh berbeda jika dibandingkan dengan gas melon. Untuk memenuhi kebutuhan usaha kulinernya, dalam satu bulan rata-rata Bambang membayar langganan sebesar Rp 150.000. Pembayaran biasanya dia lakukan melalui SMS banking. Namun, untuk kebutuhan rumah tangga biasanya hanya berkisar Rp 50.000 dalam satu bulan.

Meski demikian, Bambang tetap merasa lebih untung menggunakan gas CNG, mengingat tak perlu lagi mengganti gas. Dia memastikan hingga saat ini tak pernah permasalahan pada instalasi gas CNG di rumahnya dan sudah dipastikan keamanannya. Bambang menyebut instalasi gas CGN memiliki dua stopper kran baik di dalam rumah maupun di luar rumah.

“Jadi seperti pompa saluran air itu ya, sama stopnya seperti itu. Dari safety, keamanan memang aman. Jadi di dalam dekat kompor itu ada, di luar juga ada,” ucap Bambang.

Sementara, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyebut pada tahun ini pihaknya akan melakukan percepatan dengan menargetkan 160.000 satuan sambungan rumah tangga di berbagai kota, mulai dari Jawa, Sumatera, maupun Kalimantan. Pihaknya akan melakukan kajian kesiapan masing-masing kota. Termasuk jarak lokasi rumah dengan sumber gas.

“Tahun depan ini dari pembiayaan APBN justru kita akan tingkatkan totalnya menjadi 1 juta satuan sambungan rumah. Target untuk tahun 2028 itu sudah bisa untuk 1 juta satuan sambungan rumah. Jadi, 2027 yang 160.000 itu bisa melayani masyarakat,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....