Kolaborasi Budaya, Keluarga, dan Pancasila Jadi Kunci Cetak Generasi Emas 2045
- 15 Jun 2026 07:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID,Yogyakarta- Menyambut bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta menggelar Talkshow Astacita Kawruh bertajuk "Budaya, Keluarga, dan Pancasila: Fondasi Generasi Emas Pancasila" di Studio 1 RRI Jogja Jumat, 12 Juni 2026 siaran langsung. Diskusi interaktif ini menegaskan pentingnya sinergi pola asuh keluarga modern, penguatan literasi digital, dan pemanfaatan kearifan lokal sebagai pilar utama pembentuk karakter bangsa yang tangguh dan tidak sekadar menghafal ideologi.
Tiga narasumber/pakar yang hadir, yakni Dr. Hastangka, S.Fil, M.Phil (Pusat Riset Pendidikan, BRIN), Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah, M.Si (Dosen Magister Media dan Komunikasi UMY), serta Dr. Akhir Lusono, S.Sn, MM (Ketua Komunitas Minggu Legi sekaligus Anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Bantul). Suasana bincang-bincang dibuka secara apik lewat penampilan pembacaan geguritan (puisi Jawa) berjudul "Ojo Mbok Laleke Warisanku" oleh Annisa Kansa, diiringi alunan gending dari Paguyuban Karawitan Ngestilaras Cungkuk, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Peneliti BRIN, Dr. Hastangka menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah membumikan Pancasila dalam tindakan nyata, bukan sekadar hafalan tekstual di sekolah. Ia mengembalikan esensi ini pada visi mendasar bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penguatan institusi terkecil yaitu keluarga.
"Pancasila sebenarnya sudah lama hidup di dalam sendi keluarga Indonesia yang menghargai keharmonisan dan tata krama. Namun, realitas hari ini menunjukkan banyak keluarga yang rapuh dan retak karena melupakan nilai fundasi tersebut. Kita harus membangun kembali ekosistem 'Keluarga Pancasila' yang saling menghormati agar nilai luhur ini sukses diwariskan ke generasi masa depan," ujar Dr. Hastangka.
Di sisi lain, menyoroti tantangan era digital, Pakar Komunikasi UMY Dr. Tri Hastuti Nur Rochimah mengingatkan orang tua bahwa anak-anak generasi Gen Z dan Alpha kini hidup di dua dunia yaitu sebagai citizen (warga negara) sekaligus netizen (warga digital). Berdasarkan data terbaru, mayoritas waktu anak dihabiskan untuk berinteraksi di dunia maya, sehingga peran pengasuhan dituntut adaptif.
Dr. Tri Hastuti mengapresiasi kebijakan baru pemerintah (per Maret 2026) yang membatasi kepemilikan akun media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai langkah filterisasi makro. Namun, di ranah domestik, benteng utama tetap ada pada orang tua.
"Orang tua zaman sekarang tidak bisa lagi memakai pola instruktif atau sekadar melarang. Pendekatan harus dialogis, jadilah sahabat tempat anak bertanya. Konsekuensinya, orang tua juga harus melek fitur teknologi dan memberikan keteladanan nyata di rumah—jangan melarang anak main gadget sementara kita sendiri asyik melakukan doom scrolling tanpa tujuan," kata Tri Hastuti.
Sementara itu, dari sudut pandang praktis kebudayaan, Dr. Akhir Lusono menjelaskan bagaimana komunitas seni dan kearifan lokal mampu menjadi ruang nyata bagi pemuda mempraktikkan Pancasila. Ia mencontohkan, butir-butir kelima sila Pancasila sejatinya telah melekat erat pada falsafah dan pitutur luhur Jawa.
"Sila Persatuan Indonesia, misalnya, selaras dengan semangat Sayeg Saeka Praya atau gotong royong. Bahkan dalam seni karawitan yang kita saksikan hari ini, terkandung nilai Pancasila yang luar biasa. Bagaimana para pengrawit menghasilkan keharmonisan musik karena patuh pada ketukan kendang sebagai pemimpin, tanpa ada yang egois memukul sendiri-sendiri (pating celebung). Budaya mengajarkan kita keselarasan, sopan santun, dan pemenuhan hak yang adil," ujar Akhir Lusono.

Suasana di studio 1 RRI Yogyakarta Jl. Ahmad Jazuli Kotabaru Yogyakarta tampak antusias yang hadir mengikuti talkshow dari para mahasiswa dari Universitas yang ada di Yogyakarta, selain itu dari komunitas Minggu Legi dan juga Paguyuban Karawitan Ngestilaras dari Cungkuk Ngestiharjo kasihan Bantul, mengikuti dengan seksama. Selain itu diselingi gendhing Mars Pancasila yang dibawakan paguyuban Karawitan serta pembacaan macapat oleh Haryono dari komunitas Minggu Legi.
Talkshow yang diikuti oleh perwakilan lintas generasi ini disiarkan secara langsung melalui frekuensi PRO 4 106,6 FM,AM 1107 Khz RRI Yogyakarta, aplikasi RRI Digital, serta kanal YouTube RRI Jogja Official untuk menjaring aspirasi dan pertanyaan interaktif dari masyarakat luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....