Nusa Wastra 2026 Hadirkan Jejak Budaya di Balik Kain Nusantara
- 09 Jun 2026 14:35 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ragam cerita, filosofi, dan nilai budaya yang tersimpan dalam kain tradisional Nusantara masih dapat dinikmati melalui Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 atau Nusa Wastra 2026 di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta. Pameran yang berlangsung hingga 29 Juli 2026 ini mengajak masyarakat menelusuri perjalanan panjang wastra Indonesia, mulai dari akar sejarah, perkembangan, hingga relevansinya di era modern.
Mengusung tema Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara, pameran menghadirkan pengalaman yang memadukan tradisi, seni, dan teknologi secara edukatif sekaligus inspiratif. Sebanyak 85 koleksi wastra bersama 22 benda pendukung dipamerkan, menampilkan kekayaan kain tradisional Nusantara mulai dari kain kulit kayu (bark cloth), batik, hingga tenun dari berbagai daerah di Indonesia.
Pameran ini melibatkan 40 partisipan dari museum, institusi pendidikan, serta lembaga kebudayaan di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran teknologi imersif dan penataan ruang tematik memungkinkan pengunjung memahami lebih dalam makna simbolik yang melekat pada setiap motif dan tekstur kain tradisional.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menilai pameran ini mampu menyajikan keberagaman wastra Nusantara secara menarik dan menyeluruh. Menurutnya, penyusunan alur cerita, tata pencahayaan, hingga penggunaan teknologi menjadi kekuatan dalam mengenalkan kekayaan kain tradisional Indonesia kepada publik.
“Saya apresiasi sekali pameran kolaboratif yang diselenggarakan Museum Sonobudoyo ini. Kita berharap pameran yang akan berlangsung hampir dua bulan ke depan ini, bisa didatangi oleh masyarakat umum, khususnya juga generasi muda, untuk mengenal wastra kita,” kata Menteri Fadli.
Ia menilai masyarakat selama ini cenderung lebih mengenal batik, padahal Indonesia memiliki beragam jenis wastra lain seperti songket, tenun ikat, hingga kain tradisional dari berbagai daerah yang memiliki nilai artistik tinggi.
| Baca juga: Tiga Karakter Penjaga Akal dalam Alquran |
Menurutnya, wastra Nusantara juga memiliki peluang besar untuk terus berkembang melalui inovasi dan pendekatan kekinian. Potensi tersebut dinilai dapat memperkuat posisi wastra sebagai modal budaya yang mendukung ekonomi budaya dan industri kreatif nasional.
Lebih jauh, meningkatnya apresiasi terhadap kain tradisional diyakini dapat memperkuat ekosistem wastra nasional, sekaligus memberi dampak ekonomi bagi para perajin, industri batik, tenun, tekstil, hingga sektor kreatif lainnya.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan bahwa wastra bukan sekadar busana, melainkan simbol identitas budaya yang merepresentasikan karakter dan nilai setiap kelompok masyarakat di Indonesia.
“Nusa Wastra diselenggarakan untuk mengedukasi dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan kain tradisional Nusantara yang merupakan bagian penting dari identitas budaya bangsa. Dari kain yang menggunakan bahan-bahan dan teknik sederhana, berkembang menjadi penanda budaya dan pemersatu berbagai etnis di Indonesia, memiliki nilai magis, spiritual, ekspresi budaya, hingga pengetahuan yang berkembang dari generasi ke generasi,” kata Ni Made.
Pameran ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap wastra Nusantara sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam pelestarian dan pengembangannya di masa depan.
Alur pameran dibagi ke dalam sejumlah subtema yang tersebar di berbagai ruang, seperti Benang-Benang yang Berjejalin, Kain-Kain Magis, Wastra Bercerita, hingga Wastra Nusantara: Warisan untuk Masa Depan. Setiap ruang menghadirkan perspektif berbeda mengenai hubungan kain tradisional dengan identitas budaya, spiritualitas, serta perkembangan sosial masyarakat Indonesia.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah kain kulit kayu atau Bark Cloth, yang dibuat melalui proses fermentasi dan pemukulan serat kayu hingga membentuk lembaran menyerupai kain. Selain itu, terdapat Kain Terfo dari Papua, wastra khas Suku Sobey yang ditenun menggunakan alat tradisional sederhana dan memiliki fungsi penting dalam kehidupan adat masyarakat setempat.
Masyarakat masih dapat mengunjungi pameran di Gedung Pamer Saraswati, Museum Negeri Sonobudoyo setiap Selasa hingga Minggu pukul 08.00–21.00 WIB. Tiket masuk dibanderol mulai Rp5.000 untuk anak-anak, Rp10.000 bagi dewasa, dan Rp20.000 untuk wisatawan mancanegara, termasuk akses masuk museum.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....