Sambut Hari Lahir Pancasila, Guru SD Soroti Tantangan Menanamkan Nilai Kebangsaan

  • 31 Mei 2026 17:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Perkembangan teknologi digital menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga pendidik dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak. Di tengah derasnya arus informasi dan konten media sosial, guru dituntut tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga membimbing karakter dan literasi digital peserta didik.

Guru Kelas 1 SDN Vidya Qasana Yogyakarta Lia Pratiwi mengatakan anak-anak saat ini hidup di dua dunia sekaligus, yakni dunia nyata dan dunia digital yang mudah diakses melalui gawai. Kondisi tersebut membuat proses penanaman nilai-nilai Pancasila tidak bisa lagi dilakukan hanya melalui teori atau hafalan semata.

"Nilai-nilai Pancasila sering kali kalah menarik dibandingkan konten digital yang setiap hari mereka lihat di media sosial, video daring, maupun permainan online," ujar Lia saat dikonfirmasi, Minggu, 31 Mei 2026.

Menurut Lia, salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kemampuan anak dalam menyaring informasi yang diterima. Tidak sedikit siswa yang langsung mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Selain itu, masuknya berbagai budaya dari luar melalui internet juga turut memengaruhi perilaku anak. Meski tidak semua budaya luar berdampak negatif, anak usia sekolah dasar dinilai masih belum memiliki kemampuan filter yang kuat sehingga lebih mudah meniru perilaku yang dianggap lucu atau menarik, termasuk gaya bicara kasar dan sikap yang kurang menghargai orang lain.

Lia menambahkan, nilai-nilai Pancasila cenderung abstrak bagi anak-anak. Konsep seperti gotong royong, musyawarah, maupun keadilan sosial sering kali sulit dipahami jika hanya disampaikan dalam bentuk teori.

"Anak-anak usia 7 sampai 12 tahun membutuhkan contoh yang nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka," katanya.

Lia menuturkan, pendidikan karakter juga tidak hanya dipengaruhi lingkungan sekolah. Perbedaan nilai yang diterapkan di rumah dan lingkungan sekitar kerap menjadi hambatan dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, Lia memilih pendekatan yang lebih kontekstual. Di sisi lain, Lia turut menerapkan konsep "laboratorium Pancasila" di dalam kelas. Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya menghafal sila-sila Pancasila, tetapi mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya adalah kegiatan piket kelas digunakan untuk mengenalkan semangat gotong royong. Sementara pemilihan ketua kelas melalui voting menjadi sarana belajar demokrasi.

“Bahkan kebiasaan berdoa sebelum belajar dimaknai sebagai bentuk pengamalan sila pertama,” ucapnya.

Untuk memastikan anak-anak tetap mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di rumah, Lia turut menjalin komunikasi intens dengan orang tua.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....