City Branding yang Kuat Mampu Dongkrak Wisata dan Investasi

  • 30 Mei 2026 21:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pembangunan citra kota atau city branding kini menjadi salah satu strategi penting yang banyak diterapkan pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui penguatan identitas daerah yang didukung berbagai destinasi dan agenda kegiatan, daerah dapat meningkatkan daya tarik wisata, investasi, serta menggerakkan ekonomi masyarakat.

Keberhasilan sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Solo, Bali, dan Yogyakarta menunjukkan bahwa pelaksanaan city branding yang konsisten mampu mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Kehadiran berbagai agenda dan kalender kegiatan juga terbukti mendorong perputaran ekonomi daerah sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk berkembang.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Workshop Region City Branding yang digelar di Gedung Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, Sabtu, 23 Mei 2026.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, menilai keselarasan identitas institusi dengan karakter daerah menjadi faktor penting dalam membangun citra wilayah. Menurutnya, hubungan erat antara karakter UGM yang dikenal dekat dengan masyarakat dan identitas Yogyakarta menjadi contoh strategi komunikasi yang tumbuh secara alami.

Ova menjelaskan bahwa citra tersebut diperkuat melalui berbagai program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, salah satunya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Program ini dinilai menjadi sarana promosi tidak langsung yang memperkenalkan nilai-nilai Yogyakarta hingga ke berbagai pelosok daerah.

“UGM itu identik dengan Jogja, yaitu ndeso. Melalui KKN, UGM menjadi dekat dengan masyarakat. Bagi anak-anak di remote area yang ingin bersekolah di UGM karena termotivasi mahasiswa KKN, itu merupakan sebuah marketing yang secara tidak langsung dari UGM untuk menarik orang ke Yogyakarta,” katanya.

Selain itu, Ova juga menyoroti pentingnya kolaborasi antarperguruan tinggi untuk mengatasi fenomena perpindahan talenta dari daerah menuju kota-kota besar. Menurutnya, keberadaan kampus yang kuat tidak hanya membangun identitas sosial daerah, tetapi juga mampu menjadi magnet bagi sumber daya manusia unggul.

Ia menyebut regulasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang memungkinkan penerapan program gelar ganda antarkampus dapat menjadi solusi dalam memperkuat daya saing perguruan tinggi daerah.

“Kerja sama kurikulum melalui double degree antara universitas lokal dengan universitas ‘sudah mapan’ dapat menjadi jalan keluar. Selain itu, perguruan tinggi di daerah harus mampu merancang proyek-proyek lokal yang unik untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik di wilayahnya masing-masing,” katanya.

Sementara itu, penggagas Jogja Istimewa, Arief Budiman, menilai tantangan terbesar dalam implementasi city branding di lingkungan pemerintahan terletak pada proses menerjemahkan ide kreatif ke dalam kebijakan, program, dan anggaran yang konkret.

“Branding itu adalah tata kelola potensi unggulan. Harus ada program nyata yang menyertai agar brand tersebut memiliki makna dan terbukti secara konkret,” ujarnya.

Menurut Arief, peran Bappeda sangat penting untuk memastikan strategi city branding mampu menghasilkan nilai tambah yang berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Board of Creative Ngayogjazz, Ajie Wartono, menegaskan bahwa keberhasilan sebuah event daerah sangat bergantung pada kemampuan mengangkat nilai sejarah dan karakter asli suatu wilayah. Pengalaman penyelenggaraan Ngayogjazz yang berpindah-pindah desa sejak 2007 menunjukkan bahwa festival akan lebih berkelanjutan jika memanfaatkan ruang hidup masyarakat yang telah memiliki aktivitas sosial.

“Ngayogjazz itu memakai ruang hidup yang sudah ada aktivitas sosial kemasyarakatannya, bukan memakai ruang mati. Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola ruang tersebut bersama warga. Kami memicu mereka dengan mendatangkan acara, dengan seluruhnya dikelola desa dan masuk ke kas desa,” katanya.

Ajie menambahkan, banyak desa sebenarnya memiliki potensi besar yang belum tergali secara maksimal. Karena itu, diperlukan upaya untuk menemukan narasi khas yang dapat dikembangkan menjadi identitas dan daya tarik yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Masih banyak desa-desa yang tidak sadar kalau mereka memiliki potensi. Oleh karena itu, perlu kita arahkan untuk membuat branding desa yang khas, misalnya Badui di Lebak, tagline kegiatannya bisa diambil dari hal di desa itu,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....