Dua Dekade Gempa Yogyakarta, BMKG Ajak Masyarakat Perkuat Mitigasi Bencana

  • 28 Mei 2026 11:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Sleman mengajak masyarakat memperkuat kesadaran mitigasi bencana pada momentum memperingati dua dekade Gempa Yogyakarta 2006. Peringatan dua dekade gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 tersebut menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Sleman Ardhianto Septiadhi menyebut terdapat potensi gempa bumi di wilayah Bantul dan DIY. Termasuk kondisi tektonik regional, keberadaan sesar aktif seperti Sesar Opak dan Sesar Mataram, hingga potensi gempa megathrust di selatan Pulau Jawa. Dia menegaskan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban maupun kerugian material.

“Memahami potensi gempa bumi dan dampaknya sangat krusial untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian material. Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti, namun pemahaman yang baik memungkinkan masyarakat melakukan mitigasi dan merespons secara tepat saat bencana terjadi,” uja Ardhianto.

Berbagai upaya edukasi dilakukan oleh BMKG kepada masyarakat. BMKG juga turut menjelaskan hasil observasi aktivitas kegempaan di kawasan Sesar Opak, termasuk pola foreshock, mainshock, dan aftershock sebagai bagian dari edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Selain itu, masyarakat diberikan pemahaman mengenai potensi ancaman tsunami di wilayah pesisir selatan Yogyakarta serta pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa darat.

Ardhianto menambahkan pihaknya memiliki sistem monitoring gempa bumi dan peringatan dini tsunami yang digunakan untuk mempercepat penyampaian informasi kebencanaan kepada masyarakat. Berbagai upaya lainnya juga terus dikuatkan. Misalnya, penguatan kapasitas masyarakat melalui program Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes to School, hingga pendampingan desa pesisir yang telah diakui UNESCO IOC sebagai desa siap tsunami di wilayah DIY.

“Diharapkan dapat tercipta masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Bantul, yang semakin tangguh, waspada, dan berdaya dalam menghadapi potensi bencana gempabumi di masa mendatang. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan perlu terus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga teknis, komunitas, dan masyarakat,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....