Limbah Batok Kelapa dari Bantul Tembus Pasar Ekspor hingga Jamaika

  • 26 Mei 2026 07:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Limbah batok kelapa yang kerap dianggap tak bernilai justru disulap Hariyanti menjadi produk kerajinan bernilai tinggi yang menembus pasar internasional. Dari hasil tangannya, batok kelapa berubah menjadi tas, dompet, taplak meja, wall decor, hingga perlengkapan interior yang kini telah dikirim hingga mancanegara.

Dengan nama Yanti Batok Craft, hasil karyanya telah menjangkau Bali, Jakarta, Kalimantan, Ambon, Batam, hingga luar negeri seperti Belanda, Malaysia hingga Sri Lanka. Salah satu pesanan terbesar yang pernah diterimanya adalah satu kontainer kecil berisi sekitar 7.000 tas batok kelapa dengan nilai mencapai ratusan juta rupiah yang dikirimkan menuju Jamaika.

Pemasaran hingga ke pasar internasional itu didapat lewat berbagai pameran dan kerja sama dengan banyak pihak. Hariyanti mengatakan produknya semakin dikenal setelah difasilitasi mengikuti promosi UMKM melalui platform Sibakul Jogja, serta sejumlah pameran seperti Jakarta Expo dan Trade Expo Indonesia.

Selain memperluas pasar, Hariyanti juga terus berinovasi dalam desain dan pemanfaatan limbah. Ia ingin semua sisa produksi bisa diolah kembali menjadi produk baru sehingga usahanya benar-benar menuju zero waste.

“Kemudian limbah saya itu tetap kita jadikan sesuatu yang bernilai tinggi juga. Sekarang saya zero limbah, maksudnya mengolah limbah dari limbah saya sendiri. Itu nanti tidak kalah bagus dan tidak kalah nilai jualnya, jadi semuanya kita bikin barang dan tanpa limbah,” ucap Hariyanti

Perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Selama lebih dari dua dekade menjalankan usaha, Hariyanti sempat diterpa sejumlah ujian besar, termasuk gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada 2006. Bencana tersebut membuat usahanya berhenti selama kurang lebih tiga tahun.

“Kita bangkitnya itu alhamdulillah pemerintah itu membuat pameran, pameran Bangkit UKM Bantul diprakarsai oleh Dinas, kemudian banyak orang-orang luar itu beli,” kata Hariyanti

Cobaan kembali datang saat pandemi COVID-19. Pesanan turun drastis hingga kondisi keuangan usahanya sempat minus. Meski begitu, Hariyanti tetap berupaya mempertahankan para pekerjanya. Ia mengaku usahanya mampu bertahan setelah mendapat pesanan suvenir dari dinas senilai sekitar Rp 30 juta yang menjadi modal untuk kembali menjalankan produksi.

Bagi para pekerjanya, usaha ini juga menjadi ruang tumbuh bersama. Pak Yani, salah satu karyawan yang telah bekerja selama 15 tahun, menyebut suasana kerja di tempat Hariyanti terasa seperti keluarga.

“Corona kemarin itu, memang benar-benar kolaps. Disini nggak boleh kumpul, akhirnya dikasih mesin di rumah masing-masing, dan dia (Hariyanti) tetap, monggo bekerja, silahkan, tidak dihentikan,” ucap Yani. Dirinya sangat bersyukur dan menghargai usaha Hariyanti yang dengan keadaan apapun tetap berusaha memberdayakan masyarakat disekitarnya. (Aryasena)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....