Petani Salak Pondoh Sleman Hadapi Tantangan Harga Anjlok dan Regenerasi Petani
- 25 Mei 2026 17:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Petani salak pondoh di Kabupaten Sleman menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan komoditas khas daerah tersebut. Mulai dari anjloknya harga saat panen raya, rendahnya produktivitas tanaman tua, hingga minimnya regenerasi petani menjadi persoalan yang kini dihadapi. Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan tantangan terbesar petani salak saat ini berada pada sektor pascapanen dan pemasaran hasil produksi.
“Pada saat panen raya harga salak bisa turun jauh. Yang jadi masalah sekarang volume produksinya rendah, tapi harganya juga rendah sehingga untuk memetik saja kadang tidak menutup biaya,” kata Rofiq.
Menurutnya, banyak pohon salak di Sleman yang sudah memasuki usia tua sehingga produktivitasnya menurun. Kondisi ini membuat hasil panen petani tidak lagi maksimal seperti beberapa tahun lalu. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Sleman kini melakukan program peremajaan tanaman menggunakan metode cangkok induk. Cara ini dipilih agar tanaman bisa lebih cepat memasuki masa pembuahan dibandingkan menggunakan bibit baru.
“Kalau tanam dari bibit awal bisa butuh tiga tahun untuk produksi. Dengan cangkok induk ini proses pembuahannya lebih cepat sehingga diharapkan produktivitas bisa pulih,” ujarnya.
Selain produktivitas, regenerasi petani juga menjadi tantangan tersendiri. Rofiq menyebut sebagian besar petani salak saat ini merupakan kelompok usia lanjut sehingga perlu keterlibatan generasi muda untuk menjaga keberlangsungan budidaya salak pondoh. Pemerintah pun berupaya menarik minat generasi muda dengan membuka peluang pasar yang lebih luas, termasuk ekspor salak ke luar negeri. Saat ini salak Sleman mulai dikirim ke sejumlah negara seperti Vietnam, China, Malaysia, Hongkong, hingga Selandia Baru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....