Seruan Aktivis dalam Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia

  • 23 Mei 2026 03:37 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID., Yogyakarta - Kicau burung yang dulu akrab terdengar di pagi hari, kini mulai sering dirindukan. Sementara itu, hamparan hijau, sedikit demi sedikit berganti menjadi bangunan dan beton. Tanpa banyak disadari, tanda-tanda kerusakan alam sebenarnya sudah mulai tampak di lingkungan sekitar.

Tepat pada peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia, 22 Mei, kondisi ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap lingkungan, bukan lagi sekadar cerita masa depan. Di tengah meningkatnya alih fungsi lahan, pencemaran, hingga hilangnya habitat satwa, para aktivis lingkungan menyerukan perlunya langkah nyata untuk menjaga keanekaragaman hayati yang menjadi penopang kehidupan manusia.

Direktur Yayasan Kanopi Indonesia, Nirina Indriyani mengatakan, saat ini kekayaan keanekaragaman hayati sedang terancam, bahkan berlangsung tanpa disadari. “Kalau bicara Indonesia secara umum, kita sebenarnya negara yang luar biasa kaya karena sekitar 17 persen spesies dunia ada di sini. Namun, kekayaan itu saat ini sedang terancam dan sayangnya berlangsung secara perlahan tanpa banyak disadari,” katanya kepada RRI, pada Jumat 22 Mei 2026.

Menurutnya, di DIY sendiri kondisi tersebut terlihat dari semakin berkurangnya lahan hijau, degradasi sungai, hingga mulai menghilangnya sejumlah spesies yang dulu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. “Burung gereja, capung, katak sawah, bahkan tanaman pekarangan seperti kelor dan belimbing wuluh kini mulai jarang terlihat. Ini menjadi tanda bahwa ekosistem kita sedang tidak baik-baik saja,” ucapnya.

Lalu, apa yang bisa dilakukan manusia? Ia mengatakan, manusia bisa turut menyelamatkan keanekaragaman hayati, dengan melakukan hal-hal yang sederhana.

“Di rumah, tanam tanaman lokal di pot atau pekarangan. Tanaman lokal lebih tahan, tidak butuh banyak pestisida, dan jadi rumah bagi serangga dan burung. Di dapur, pilih produk pangan lokal dan musiman, ini mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Tak kalah penting, ia juga mengajak orangtua untuk melibatkan anak-anak lebih mengenal alam. Menurutnya, kalau sedari dini dikenalkan, maka mereka akan peduli. Selanjutnya kalau mereka peduli, maka mereka akan menjaga.

Selain itu, Nirina, sebagai aktivis lingkungan bersama Yayasan Kanopi Indonesia mengajak masyarakat di Hari Keanekaragaman Hayati, untuk mengingat kembali bahwa menjaga alam adalah menjaga manusia itu sendiri, sebagai penghuninya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....