Sultan Ingin RTH ABA Minim Bangunan, Fokus Kenyamanan

  • 22 Mei 2026 19:17 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Eks kawasan Parkir Abu Bakar Ali (ABA) direncanakan bertransformasi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai bagian dari penataan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Dalam konsep yang tengah disiapkan, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menghendaki kawasan tersebut tetap terbuka dengan keberadaan bangunan yang sangat terbatas.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan, arahan Sri Sultan menitikberatkan pada kenyamanan pengunjung sekaligus menjaga kesan alami di kawasan tersebut. Karena itu, RTH ABA nantinya dirancang tanpa banyak bangunan fisik.

“Ngarsa Dalem maunya ruang terbuka hijau yang ada nanti paling tidak memberikan suasana nyaman untuk pengunjung. Dan kalau desainnya memang menjadi taman, beliau menginginkan tidak perlu banyak bangunan. Dan memang nanti tidak ada bangunan, hanya ada toilet saja,” ucapnya usai menghadiri Rapat Rencana Penataan Sumbu Filosofi Segmen Selatan pada Kamis, 21 Mei 2026 di Gedhong Gadri, Kompleks Kepatihan.

Made menjelaskan, konsep awal yang telah diajukan kepada Sri Sultan berupa hutan kota. Dalam rancangan tersebut, fasilitas toilet semula ditempatkan di bagian tengah kawasan sebagai upaya memenuhi kebutuhan fasilitas umum di sisi utara kawasan Malioboro yang selama ini dinilai masih terbatas.

Namun, berdasarkan hasil pembahasan terbaru, lokasi toilet direncanakan bergeser ke arah barat dengan ukuran bangunan yang lebih kecil agar tidak mendominasi area hijau.

Selain minim bangunan, Sri Sultan juga memberikan perhatian pada konsep vegetasi di RTH ABA. Menurut Made, Sultan berharap taman tidak hanya dipenuhi tanaman perdu, tetapi juga memiliki unsur estetika yang lebih kuat melalui tanaman rindang dan berwarna.

“Beliau menginginkan tanaman yang indah, yang bisa nyaman dipandang mata. Tapi nanti bisa kita kombinasikan, perdunya nanti tidak terlalu banyak. Mungkin akan kita kombinasikan dengan jenis perdu yang ada bunga-bunganya,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemda DIY juga mulai menyiapkan rencana penataan kawasan Panggung Krapyak yang menjadi bagian penting dalam Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Namun sebelum tahap penataan dilakukan, pemerintah akan lebih dulu melakukan identifikasi terkait status pertanahan dan potensi pengembangannya.

“Karena disana aktivitas ekonominya cukup padat, permukimannya juga cukup padat, sehingga memang tidak mudah, makanya perlu mengidentifikasi, baik dari sisi kepemilikan lahan maupun kemungkinan-kemungkinan pengembangannya. Dan beliau juga menyampaikan untuk persoalan tanah, coba diidentifikasi dan diselesaikan dulu,” katanya.

Made menegaskan, penataan kawasan Panggung Krapyak nantinya tidak akan mengubah pola kehidupan maupun sistem yang telah berjalan. Penyesuaian akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakter kawasan yang sudah terbentuk.

Sebagai bagian dari warisan dunia UNESCO, penataan Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta diarahkan untuk menjaga harmoni tata ruang, memperkuat fasilitas pejalan kaki, serta mengurangi dominasi kendaraan bermotor. Jalur imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, hingga Tugu Pal Putih diharapkan tetap mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai spiritual khas Yogyakarta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....