Slay tapi Njawani Cara Prof Hendro Kumoro Bentengi Karakter Gen Z
- 25 Mei 2026 07:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di tengah arus modernisasi menjadi fondasi penting bagi generasi muda masa kini. Konsep menggabungkan ekspresi diri yang modern dengan etika luhur, atau yang populer dengan istilah kekinian "Slay tapi Njawani", dinilai sangat krusial untuk membentengi Generasi Z dan Alpha dari hilangnya identitas jati diri akibat derasnya pengaruh budaya global.
Diskusi yang sudah dilakukan di Siaran Kawruh Pro 4 RRI Yogyakarta Jumat 22 Mei 2026, yang mengusung tema Manifesto Pendidikan Karakter Berbasis Lokal di Hari Kebangkitan Nasional. Fokus utama bermuara pada bagaimana menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan etika ketimuran agar tidak tergerus oleh zaman, melainkan mampu beradaptasi dan tetap relevan bagi gaya hidup serta pergaulan anak muda.
Pakar Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Hendro Kumoro, M.Hum., menekankan bahwa menjadi modern, tampil percaya diri, dan memukau boleh saja dilakukan, asalkan tetap membumi dan berpegang teguh pada nilai kesopanan. Menurutnya, pergeseran zaman tidak seharusnya membuat anak muda dijauhi dari budayanya, melainkan menjadi tantangan bagi generasi tua untuk memberikan pendekatan dan teladan yang tepat.
"Kita boleh berekspresi semaksimal mungkin, dunia masa kini dan masa lalu memang berbeda. Tetapi sungguhpun berbeda, kita harus tetap njawani, yang artinya berangkat dari nilai-nilai etika dan moral kebudayaan Jawa. Sungguhpun berekspresi bebas, kita tetap harus mempraktikkan nilai andhap asor dan tidak terkesan sombong," kata Prof. Hendro.
Menyambung hal tersebut, Prof. Hendro menjelaskan bahwa pembentukan karakter melalui bahasa dan budaya tidak bisa dicapai jika generasi tua hanya gemar menyalahkan anak muda saat mereka berbuat keliru. Baginya, penerapan filosofi Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani adalah kunci agar anak-anak tidak takut untuk mencoba mempraktikkan tata krama, terutama dalam menggunakan bahasa ibu mereka sehari-hari.
"Kalau anak muda salah, tolonglah jangan disalahkan. Didengarkan, lalu diarahkan, yang tidak pas dipaskan. Kita sebagai orang tua harus memberikan teladan di depan. Karena bahasa itu berkembang dan dinamis, yang terpenting mereka memiliki kesadaran dan mengerti konsep empan papan, yakni menempatkan diri sesuai situasi dan kondisinya," ujarnya.
Menariknya, pendidikan karakter dari kacamata budaya ini tidak sekadar bersifat membatasi atau menolak masuknya tren dari luar. Melalui prinsip adaptasi yang tepat, kearifan budaya lokal justru diangkat menjadi perisai yang adaptif agar generasi penerus memiliki rasa kepemilikan (roso handarbeni) terhadap identitasnya sendiri tanpa harus tertinggal oleh kemajuan zaman.
"Kita tidak perlu alergi dengan hal-hal impor di era media yang berkembang pesat ini. Tetapi dengan catatan, kalau kita sudah punya dan tahu tentang jati diri kita, ya kita gunakan. Falsafah akhirnya adalah keli neng ora keli, kita boleh mengikuti arus globalisasi ini, tetapi kita tidak boleh hanyut di luar kontrol kita," katanya.
Warisan budi pekerti dan kearifan lokal yang telah tertanam dalam falsafah Jawa bukan hanya sebatas aturan kuno masa lampau. Ajaran untuk saling menghargai, mawas diri, dan kesantunan tersebut menjadi penunjuk arah sekaligus fondasi yang kokoh untuk menavigasi masa depan, memastikan generasi penerus bangsa tetap tampil percaya diri dan berprestasi, namun tak pernah lepas dari akar karakternya yang luhur.(auliya)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....