Siap Wujudkan Kemandirian, Pramuka DIY Sambut Jambore Nasional 2026

  • 21 Mei 2026 23:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gerakan Pramuka sering kali masih dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat sebagai sebatas kegiatan ekstrakurikuler sekolah, di mana rutinitasnya kerap dianggap hanya melibatkan aktivitas tepuk tangan, baris-berbaris, dan berkemah semata. Namun, pendidikan kepramukaan sejak usia dini hadir untuk mematahkan stigma tersebut melalui pembentukan karakter yang menanamkan kemandirian, kedisiplinan, dan kepekaan sosial langsung dari alam terbuka.

Dalam bincang-bincang hangat di acara “Kawruh" RRI Pro4 Yogyakarta, Andalan Daerah Urusan Pembinaan Anggota Muda Kwarda Daerah Istimewa Yogyakarta, Kak E Pramusinto SSos. (Kak Sinto) dan Kak Aminah Nurrohman SIP, MSc. (Kak Am), mengungkapkan bahwa misi utama Gerakan Pramuka saat ini difokuskan pada persiapan Jambore Nasional (Jamnas) ke-12 Tahun 2026. Kegiatan perkemahan akbar ini menyadarkan masyarakat bahwa kecakapan hidup berakar dari rutinitas sehari-hari yang harus dilatih dan dibiasakan.

Diperkenalkan tidak sebatas sebagai ajang rekreasi, pendidikan karakter di alam bebas ini tidak sekadar menjadi ajang kumpul-kumpul. Bagi Kak Sinto, indikator keberhasilan sebuah Jambore bukanlah seberapa megah tenda yang didirikan, melainkan seberapa besar perubahan perilaku, ketangguhan fisik, dan kemandirian pesertanya saat dihadapkan pada tantangan dasar kehidupan sehari-hari, jauh dari kenyamanan rumah.

"Di Jamnas nanti tidak ada kegiatan yang bersifat lomba, hanya bersifat rekreatif dan edukatif. Tapi di sana kita ajarkan kemandirian. Apakah mereka bisa mencuci baju sendiri yang biasanya dilakukan orang tua, atau memasak sendiri karena panitia hanya menyediakan bahan mentah (natura). Hal-hal ini menjadi bagian wajib dari pembinaan," ujar Kak Sinto.

Kini, melalui pemahaman yang utuh, generasi muda usia Penggalang (11–15 tahun) yang dulunya terbiasa dilayani diharapkan bertransformasi menjadi individu yang tangguh dan berani menjunjung tinggi kemandirian.Untuk memastikan setiap anggota muda dapat menginternalisasi nilai ini dengan baik, Kwarda DIY menetapkan tiga pilar kesiapan utama yang harus dibangun secara terintegrasi.

Pilar pertama adalah menanamkan kecakapan tingkat tinggi, di mana peserta wajib berstatus minimal Penggalang Terap, dan khusus untuk Pemimpin Regu harus sudah bergelar Pramuka Garuda dengan kepemilikan minimal 45 Tanda Kecakapan Khusus (TKK). Kedua, pihak kwartir memfasilitasi lingkungan yang suportif melalui Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, guna membekali peserta dengan strategi tata letak (kapling) dan mentalitas.

Tak hanya fokus pada anak-anak reguler, pilar ketiga menuntut Pramuka untuk inklusif dengan memberikan porsi yang sama bagi Pramuka Berkebutuhan Khusus, di mana 24 peserta disabilitas akan dikirimkan dengan pendampingan penuh dari pembina.

Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar, Kak Am menekankan bahwa memiliki kecerdasan kognitif tidak otomatis menjamin seseorang siap menghadapi masa depan jika tidak diwujudkan dalam keterampilan hidup nyata (life skills). Menjawab keresahan pendengar terkait relevansi Pramuka di era modern, ditekankan bahwa Jamnas 2026 mengusung tema "Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan", sebuah respons langsung terhadap isu kelangkaan pangan (SDGs) dan kuatnya pragmatisme di era digital.

"Tantangan masa depan saat ini sangat kompleks. Generasi muda di sana nanti didorong untuk tidak hanya cerdas secara akademik. Terkait swasembada pangan, arahnya adalah agar Pramuka Penggalang bisa mengenal dan memanfaatkan potensi alam di sekelilingnya. Mereka dilatih menyulap bahan pokok seperti ketela menjadi makanan bernilai ekonomi yang disukai," ujar Kak Am.

Keberlanjutan penanaman nilai kepramukaan ini tidak lepas dari kolaborasi lintas pihak, mulai dari dukungan keluarga, sistem pelatihan di Kwarcab, hingga Kwartir Nasional. Dukungan izin dan doa dari para orang tua menjadi bukti bahwa gerakan karakter ini harus diimbangi dengan kepercayaan penuh dari rumah. Dengan memegang teguh moto "Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan", pendidikan di Jambore Nasional diharapkan dapat terus berkembang menjadi ekosistem karakter, membawa nama Daerah Istimewa Yogyakarta semakin istimewa, serta menciptakan ruang yang tangguh bagi generasi penerus untuk bertumbuh dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya. (auliya)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....