Bergada Tegal Siyogo, Wajah Tradisi dan Gotong Royong Kampung
- 19 Mei 2026 15:33 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kelurahan Tegalpanggung, Kemantren Danurejan, menjadi salah satu wilayah strategis di Kota Yogyakarta. Selain masuk dalam kawasan penyangga sumbu filosofis Yogyakarta, wilayah ini juga berada di jalur penting yang menghubungkan Stasiun Lempuyangan dan kawasan Malioboro.
Posisi tersebut menjadikan Tegalpanggung berkembang sebagai kampung kota yang dinamis. Di tengah kedekatannya dengan pusat wisata dan transportasi, masyarakat Tegalpanggung tetap mempertahankan identitas kampung melalui kehidupan sosial, seni, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Potensi ekonomi di kawasan ini juga terus berkembang. Berbagai usaha seperti homestay, persewaan kendaraan bermotor, kuliner, hingga jasa pendukung wisata tumbuh sebagai sumber penghidupan warga. Kehadiran Kampung Kuliner Tegal Kemuning dan Kampung Wisata Seni Tukangan semakin menguatkan peran Tegalpanggung sebagai kawasan yang mempertemukan aktivitas ekonomi, wisata, dan budaya masyarakat.
Di tengah perkembangan tersebut, warga Tegalpanggung tetap menjaga kekuatan seni dan budaya lokal. Dukungan Dana Keistimewaan DIY (Danais) dimanfaatkan untuk memperkuat berbagai aktivitas kebudayaan, mulai dari bergada, barongan, jatilan, reog Suro Menggolo, gejog lesung, hingga kesenian gamelan slendro.
Salah satu identitas budaya yang menonjol di wilayah ini adalah Bergada Tegal Siyogo, kelompok seni keprajuritan rakyat bergaya Mataram yang tumbuh dari Kampung Wisata Tegalpanggung, Kemantenan, Danurejan, Kota Yogyakarta. Keberadaan kelompok ini menjadi bukti bahwa tradisi keprajuritan Jawa tetap hidup di tengah masyarakat kampung perkotaan.
Nama Tegal Siyogo sendiri memiliki makna yang erat dengan karakter masyarakat setempat. “Tegal” merujuk pada wilayah asal, yakni Tegalpanggung. Sementara “Siyogo” mencerminkan semangat kesiapsiagaan warga dalam menjaga lingkungan, memperkuat gotong royong, serta merawat tradisi sebagai bagian dari identitas kampung.
Berbeda dengan prajurit resmi keraton, Bergada Tegal Siyogo tumbuh dari inisiatif warga sebagai bagian dari bergada rakyat. Kelompok ini lahir dari ruang sosial masyarakat dan digerakkan oleh semangat kebersamaan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keprajuritan Mataram melalui seni pertunjukan, kirab budaya, hingga kegiatan kampung.
Dalam setiap penampilannya, Bergada Tegal Siyogo menghadirkan tata baris, kostum, musik, aba-aba, dan formasi yang khas. Barisan biasanya dipimpin manggala atau pembawa panji, diikuti pembawa bendera, korps ungel-ungel sebagai pemusik, serta prajurit yang membawa tombak maupun replika senjata kayu.
Instrumen musik pengiring seperti tambur, suling miring, bendhe, kecer, simbal, hingga slompret menjadi elemen penting yang mengatur ritme langkah pasukan. Melalui irama tersebut, anggota bergada dapat bergerak dengan lampah macak yang tenang dan berwibawa maupun lampah rikat yang lebih cepat menyerupai gerak mars keprajuritan.
Keunikan lain tampak pada penggunaan aba-aba berbahasa Jawa dalam setiap gerakan. Komando seperti “Siyaga yitna… gya”, “Tindak… gya”, “Kendel… gya”, dan “Mulyani… gya” menjadi ciri khas yang membedakan tata keprajuritan rakyat dari pola baris-berbaris modern. Bahasa Jawa tidak sekadar menjadi instruksi, melainkan juga sarana menjaga nilai dan identitas budaya.
Bagi Kampung Wisata Tegalpanggung, Bergada Tegal Siyogo memiliki fungsi penting sebagai atraksi budaya sekaligus perekat sosial masyarakat. Kelompok ini rutin dilibatkan dalam penyambutan wisatawan, kirab budaya, merti kampung, pawai kemerdekaan, hingga berbagai kegiatan adat di wilayah setempat. Proses latihan yang berlangsung berkala juga menjadi ruang bertemunya warga lintas usia, sehingga regenerasi tradisi berjalan secara alami.
Dukungan Dana Keistimewaan turut memperkuat keberlanjutan kegiatan budaya tersebut, termasuk untuk kebutuhan kostum, atribut, alat musik ungel-ungel, perlengkapan kirab, pelatihan, hingga partisipasi dalam festival budaya. Dengan demikian, pelestarian tradisi tidak hanya bergantung pada swadaya masyarakat, tetapi juga memperoleh penguatan kelembagaan yang lebih terarah.
Dalam ekosistem festival budaya DIY, Bergada Tegal Siyogo juga menunjukkan kualitasnya. Kekompakan pasukan, kedisiplinan tata baris, serta karakter kostum yang khas menjadikan kelompok ini dikenal luas. Salah satu prestasi yang pernah diraih ialah predikat Penyaji Terbaik 2 dalam Festival Bergada DIY.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi yang tumbuh dari kampung dapat berkembang menjadi kebanggaan bersama. Dari Tegalpanggung, Bergada Tegal Siyogo membawa pesan bahwa kebudayaan tidak hanya hidup dalam seremoni besar, tetapi juga tumbuh dari latihan warga, musyawarah kampung, kirab jalanan, dan semangat masyarakat yang menjaganya secara konsisten.
Ke depan, keberadaan Bergada Tegal Siyogo dinilai memiliki peluang besar untuk dipadukan dengan potensi ekonomi dan wisata Tegalpanggung. Kedekatan wilayah dengan Stasiun Lempuyangan dan Malioboro, berkembangnya homestay, persewaan kendaraan, kampung kuliner, hingga wisata seni dapat menjadi modal penting untuk membangun paket wisata berbasis budaya kampung.
Dengan berbagai potensi tersebut, Tegalpanggung berpeluang semakin menguat sebagai wilayah penyangga sumbu filosofis Yogyakarta yang tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga kokoh dalam menjaga identitas budaya. Bergada Tegal Siyogo menjadi simbol warga yang siyogo menjaga tradisi, memperkuat gotong royong, serta menjadikan budaya sebagai fondasi ketahanan sosial dan ekonomi kampung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....