Pisang Unik di Ngawen, Hasilkan Empat Tandan dalam Satu Pohon

  • 19 Mei 2026 12:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Sebuah tanaman pisang milik warga Dusun Wonongso, Kalurahan Tancep, Kapanewon Ngawen menarik perhatian masyarakat karena memiliki keunikan tidak biasa. Dalam satu batang, pohon pisang tersebut mampu menghasilkan hingga empat tandan buah sekaligus dan diketahui tahan terhadap serangan penyakit yang kerap menyerang tanaman pisang milik petani.

Pemilik tanaman, Pringadi mengatakan, keunikan itu mulai terlihat sekitar satu setengah tahun lalu. Awalnya, pohon tersebut menunjukkan pertumbuhan anakan kembar yang berbeda dari pisang pada umumnya. Setelah tumbuh besar, tanaman itu mampu menghasilkan dua hingga empat tandan dalam satu pohon.

“Awalnya memang terlihat berbeda karena anakannya tumbuh kembar. Setelah besar ternyata buahnya bisa lebih dari satu tandan,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.

Dari hasil pengamatan di lapangan, fenomena tersebut diduga merupakan mutasi alami yang terjadi pada tanaman pisang jenis ambon. Hingga saat ini, tanaman tersebut telah memasuki generasi ketujuh dan tetap menunjukkan karakteristik yang sama.

Pringadi menjelaskan, bibit awal pisang itu berasal dari wilayah Sambirejo melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat itu, Dusun Wonongso dijadikan wilayah pendukung pengembangan budidaya pisang.

“Bibitnya dulu dibawa dari Sambirejo melalui program KKN UGM, kemudian dikembangkan di sini,” katanya.

Selain mampu menghasilkan banyak tandan, varietas pisang tersebut juga dinilai memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit. Di tengah banyaknya tanaman pisang warga yang rusak akibat serangan virus atau penyakit yang dikenal warga sebagai “bombrong”, tanaman milik Pringadi justru tetap tumbuh subur.

Menurut dia, bibit pisang itu tetap dapat berkembang dengan baik meskipun ditanam di lahan bekas tanaman yang sebelumnya terserang penyakit. “Kalau pohon lain banyak yang mati kena virus, tanaman ini tetap sehat,” ucapnya.

Secara bentuk, buah tersebut masih masuk kategori pisang ambon, namun memiliki ciri berbeda dibanding pisang ambon pada umumnya. Kulit buah berwarna hijau kekuningan dengan ukuran buah relatif besar dan rasa manis.

Satu pohon pisang bahkan pernah terjual hingga Rp130 ribu. Meski demikian, Pringadi mengaku lebih sering menikmati hasil panen bersama keluarga maupun membagikannya kepada warga sekitar.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, pemerintah daerah melihat potensi besar dari varietas pisang tersebut. Karena itu, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul berencana melakukan pengembangan dan penangkaran secara lebih luas.

“Kedepan mungkin akan diberikan nama khusus agar bisa menjadi identitas baru dari Ngawen, khususnya Tancep,” kata Endah.

Menurutnya, keberadaan varietas unggul itu diharapkan mampu memperkuat posisi Gunungkidul sebagai salah satu daerah pemasok kebutuhan pisang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kesempatan itu, Endah juga mengajak masyarakat terus memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam sebagai upaya menjaga ketahanan pangan mandiri.

“Tanam apa yang kita makan dan makan apa yang kita tanam,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....