Presiden Prabowo Beli Sapi Asal Gedangsari untuk Kurban

  • 19 Mei 2026 12:22 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Gunungkidul - Seorang peternak asal Padukuhan Kenteng, Kalurahan Ngalang, Kapanewon Gedangsari, Sugeng Hadi Prayitno, merasa bangga setelah salah satu sapi peliharaannya terpilih sebagai hewan kurban Presiden RI pada Iduladha 2026. Sapi berjenis simmental dengan bobot mencapai 1,08 ton tersebut dibeli pemerintah dengan nilai ratusan juta rupiah.

Sugeng menuturkan, proses seleksi bermula saat petugas dari dinas terkait mendatangi kandangnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah sapi yang ia pelihara. Di dua kandang miliknya, terdapat sekitar 20 ekor sapi dengan berbagai ukuran, mulai dari anakan hingga sapi berbobot besar.

“Petugas datang melihat kondisi sapi-sapi di kandang. Memang ada beberapa yang ukurannya cukup besar,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Selasa, 19 Mei 2026.

Saat proses peninjauan berlangsung, pihak dinas menanyakan kesediaan Sugeng apabila sapi miliknya dipilih menjadi hewan kurban Presiden. Sugeng kemudian menawarkan dua ekor sapi dengan bobot masing-masing 1.080 kilogram dan 1.025 kilogram.

“Waktu itu saya diminta menunjukkan sapi yang siap. Saya tawarkan dua ekor dengan bobot di atas satu ton,” katanya.

Usai melalui tahapan pengecekan kesehatan dan penimbangan ulang, satu ekor sapi simmental berbobot 1.080 kilogram dinyatakan memenuhi syarat dan resmi dipilih sebagai hewan kurban Presiden. Sapi tersebut merupakan hasil pengembangbiakan sendiri dari indukan limosin dan telah dirawat sejak masih kecil. Saat ini usianya sekitar tiga tahun satu bulan.

Sugeng mengaku tidak menyangka ternaknya bisa dipercaya menjadi hewan kurban orang nomor satu di Indonesia. Ia mengatakan, selama ini perawatan sapi dilakukan secara sederhana tanpa perlakuan istimewa, termasuk kandang yang masih menggunakan model tradisional.

“Perawatannya biasa saja. Pakan diberikan rutin berupa campuran ampas tahu, konsentrat, bekatul, lalu ditambah jerami dan rumput hijau,” ujarnya.

Menurutnya, kebersihan kandang dan kondisi sapi menjadi hal utama yang selalu dijaga setiap hari agar hewan tetap sehat. Ia menambahkan, pengiriman sapi berbobot jumbo tentu membutuhkan persiapan khusus, baik dari sisi kendaraan pengangkut maupun lokasi penempatan sementara sebelum penyembelihan.

“Karena ukurannya besar, pengangkutannya memang harus benar-benar diperhitungkan,” katanya.

Sugeng menyebut, membesarkan sapi hingga mencapai ukuran lebih dari satu ton membutuhkan ketelatenan, terutama saat sapi berusia empat hingga enam bulan. Pada masa tersebut, kebutuhan nutrisi dan vitamin harus benar-benar diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan tulang dan tubuh secara maksimal.

“Di usia itu perkembangan sapi sangat menentukan. Jadi pakannya harus benar-benar dijaga,” katanya.

Pria tersebut telah menekuni usaha peternakan sapi sejak dekade 1980-an. Bahkan beberapa tahun lalu ia sempat memelihara hingga 43 ekor sapi dalam satu waktu. Rekor sapi terbesar yang pernah ia pelihara mencapai bobot 1,2 ton dan dibeli oleh pembeli asal Boyolali.

Selain sapi pedaging, Sugeng juga memelihara sejumlah sapi indukan berusia tua. Salah satunya bahkan tercatat pernah melahirkan hingga 18 kali. “Kalau pembelinya artis belum pernah. Pejabat juga baru kali ini. Biasanya yang beli pedagang atau langganan,” katanya.

Pelaksana Tugas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Gunungkidul, M. Johan Wijayanto mengatakan, sapi bantuan Presiden tersebut rencananya akan disalurkan kepada jamaah Masjid Nur Huda di Padukuhan Gebang, Kalurahan Pengkol, Kapanewon Nglipar.

Ia menyampaikan, kondisi kesehatan sapi terus dipantau secara berkala oleh petugas Puskeswan Nglipar bersama Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul agar tetap dalam kondisi prima hingga hari penyembelihan.

“Lokasi penerima sudah ditetapkan di Masjid Nur Huda, Gebang, Pengkol. Selain bantuan Presiden, nantinya juga ada hewan kurban dari APBD Gunungkidul, meski saat ini masih dalam tahap pembahasan,” kata Johan.

Terpilihnya sapi milik peternak lokal Gedangsari sebagai hewan kurban Presiden diharapkan mampu menjadi penyemangat bagi peternak lain di Gunungkidul untuk terus meningkatkan kualitas ternaknya. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sapi asal Gunungkidul memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....