Perkuat Toponimi Kampung Gambiran, Hasto dan Mahasiswa KKN UPN Semai Biji Gambir

  • 11 Mei 2026 15:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Upaya memunculkan toponimi Kampung Gambiran dengan memperbanyak pohon Gambir, dilakukan dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta berkolaborasi dengan masyarakat dan Pemkot Yogyakarta. Langkah penyemaian biji dilakukan untuk menjaga keberlangsungan tanaman perdu tropis asli Asia Tenggara tersebut, yang dilakukan secara langsung oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama masyarakat Kampung Gambiran, Pandeyan di bantaran Kali Gajah Wong pada Sabtu, 9 Mei 2026.

asto Wardoyo mengatakan, penyemaian biji pohon Gambir ini, tidak sekadar menyemai tapi juga memperkuat pondasi budaya dan ekologi. Penyemaian biji Gambir adalah salah satu langkah proenvironment atau prolingkungan.

"Gambir sebagai bagian dari representasi Kampung Gambiran menjadi bagian yang bisa menjadi penanda lingkungan di sini. Terutama kampungnya sudah bernama Kampung Gambiran, tapi pohon gambirnya tidak ada atau habis. Tapi alhamdulillah kegiatan KKN UPN ini maka Insya Allah Kampung Gambiran akan ditumbuhi pohon-pohon Gambir yang luar biasa," katanya.

Hasto yang juga berprofesi sebagai dokter ini mengungkapkan, Gambir memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung antibiotik untuk membunuh bakteri dan antioksidan mencegah sel-sel tubuh mati. Tradisi orang tua Jawa dulu menggunakan Gambir untuk menginang. Pada era modern Gambir digunakan sebagai bahan kosmetik.

"Oleh sebab itu makna dari menanam Gambir bukan semata untuk reboisasi dan penanda budaya dan toponimi Kampung Gambiran. Tapi makna lebih jauh lagi bisa diimplementasikan menjadi barang-barang produksi yang meningkatkan ekonomi masyarakat," ucapnya.

Hasto juga berharap dengan hadirnya program KKN di kampung Gambiran ini bisa menginisiasi dan mengajak masyarakat yang masih menganggur, untuk lebih produktif.

Penanaman biji Pohon Gambir ini juga memiliki pesan kuat, tidak hanya sebagai simbol sejarah Kampung Gambiran, tetapi juga sebagai simbol ketahanan ekologi. Menanam kembali Pohon Gambir berarti memulihkan ingatan kolektif, memperkuat identitas kampung, sekaligus menjadi langkah nyata dalam menjaga lingkungan.

Hasto mengakui, menanam Gambir tidak mudah apalagi di tempat baru, sehingga harus banyak uji coba penyemaian, termasuk progres dari pertumbuhannya. Setelah itu baru dipindah di polybag dan ditanam.

"Tapi saya yakin karena dulu di sini konon banyak Pohon Gambir, sehingga dalam pikiran saya yang positif bahwa di sini ekologinya dan ekosistemnya cocok untuk Gambir. Mudah-mudahan menjadi bagian toponimi yang bisa dihidupkan kembali," ujarnya.

Ketua Kampung Gambiran, Susilo Edy mengatakan, penyemaian biji Pohon Gambir dibutuhkan masyarakat Kampung Gambiran untuk mendukung toponimi Kampung Gambiran yang dulunya berawal dari Alas Gambir. Sebelumnya masyarakat sudah mencoba menanam sejumlah bibit pohon Gambir tapi kurang menggembirakan karena ada yang mati.

"Rencana kita besok itu setiap rumah kalau bisa ada pohon Gambirnya. Di sepanjang Sungai Gajah Wong, halaman-halaman ditanami Pohon Gambir," katanya, mengungkapkan.

Sementara, Ketua Kelompok Mahasiswa KKN UPN Veteran Yogyakarta yang ditugaskan di Kampung Gambiran, Muhammad Hauzan Akif menyampaikan, hadirnya inisiasi penyemaian biji Gambil dikarenakan adanya cerita dari para warga, yang sebelumnya melakukan penanaman bibit Pohon Gambir, tetapi sebagian mati. Beruntungnya, salah satu teman kelompok Mahasiswa KKN ini, orang tuanya yang tinggal di Kepulauan Riau menanam Pohon Gambir.

"Kemudian dikirimkan biji-biji Pohon Gambir dari Riau untuk disemai dan ditanam di Kampung Gambiran," katanya, mengungkapkan.

Ronald Ansar mahasiswa KKN UPN Veteran Yogyakarta yang orang tuanya memiliki Pohon Gambir menyampaikan, untuk prosesnya penyemaian dibutuhkan waktu sekitar 2 - 3 bulan, untuk nantinya bisa dipindahin ke polybag kecil. Setelah itu menunggu pohonnya memiliki ketinggian sekitar 15 - 20 cm itu bisa dipindahin ke tanah.

"Jadi prosesnya dari semai sampai pindah ke tanah itu perlu sekitar empat bulan," ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....