Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Generasi Berkarakter di DIY

  • 06 Mei 2026 14:25 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pemerintah Daerah DIY resmi meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) sebagai upaya mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara batin dan berakhlak luhur. Program ini menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas budaya generasi muda di tengah derasnya arus kemajuan teknologi.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak cukup hanya berfokus pada aspek akademik. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Byawara dan peluncuran PKJ pada Senin, 4 April 2026 di SMA 6 Yogyakarta.

"Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri," kata Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, PKJ bukan sekadar program administratif, melainkan gerakan kebudayaan yang berakar pada falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Melalui pendekatan ini, diharapkan lahir generasi berjiwa satriya dengan karakter sawiji, greget, sengguh, lan ora mingkuh.

"Pendidikan tidak boleh dipahami sebagai proses pengajaran, melainkan juga sebagai proses pembudayaan. Pendidikan harus menjadi ruang bertemunya pengetahuan, karakter, dan kesadaran hidup," ucap Sri Sultan.

Karakter tersebut diyakini mampu melahirkan pribadi yang karyenak tyasing sasama, yakni individu yang membawa ketenteraman bagi sesama. Hal ini menjadi fondasi penting agar kecerdasan intelektual tetap selaras dengan kepekaan sosial.

Sri Sultan juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa hanya bergantung pada sekolah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem yang kuat antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

"Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan berasal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bahkan lebih luas lagi, ia bertumpu pada sinergi Kraton, Kampus, dan Kampung yang menjadi ekosistem hidup bagi tumbuhnya karakter generasi," ucap Sri Sultan.

Peluncuran PKJ menandai dimulainya implementasi nyata dalam kurikulum dan kehidupan sehari-hari. Sri Sultan mengajak seluruh pihak untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam praktik nyata.

"Peluncuran hari ini adalah penanda penting bahwa Pendidikan Khas Kejogjaan telah beranjak dari gagasan menuju gerakan nyata. Dari konsep menuju implementasi. Dari wacana menuju pembudayaan," ujar Sri Sultan.

Ia juga mengingatkan prinsip ngèlmu iku kalakoné kanthi laku, bahwa ilmu sejati harus diwujudkan dalam tindakan. Dengan PKJ, Pemda DIY optimistis dapat melahirkan generasi berbudaya yang membawa kemaslahatan luas.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Muhammad Setiadi, melaporkan bahwa implementasi PKJ menunjukkan hasil positif. Indeks karakter peserta didik mencapai skor 4,1 dari skala 5 berdasarkan evaluasi awal.

Program ini dikembangkan sejak 2019 dan melalui proses panjang berbasis partisipasi berbagai pihak. Program ini awalnya terinspirasi dari pidato ilmiah Sri Sultan Hamengku Buwono X saat penganugerahan Doktor Honoris Causa di Universitas Negeri Yogyakarta yang menekankan pentingnya karakter berbasis budaya.

Setiadi menjelaskan bahwa PKJ tidak disusun secara instan, melainkan melalui proses partisipatif yang melibatkan banyak pihak. Sejak tahun 2022, Disdikpora DIY telah menggelar berbagai Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan perguruan tinggi, organisasi pendidikan, hingga tokoh masyarakat.

"Pada tahun 2023, tim pengembang kemudian menyusun substansi utama yang menghasilkan empat buku panduan PKJ. Buku-buku tersebut mencakup buku induk serta panduan untuk jenjang pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi," ujar Setiadi.

Nilai-nilai dalam PKJ bersifat inklusif dan kolaboratif, mengintegrasikan kearifan lokal dari berbagai elemen seperti Karaton, Pakualaman, Taman Siswa, hingga organisasi keagamaan, yang dipadukan dengan pendekatan pendidikan modern.

Implementasinya tidak hanya sebagai materi pembelajaran, tetapi juga diterapkan dalam budaya sekolah dan kehidupan sehari-hari siswa. Keberlanjutan program ini didukung penuh oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY serta kolaborasi lintas sektoral. Setelah melalui tahap bimbingan teknis bagi guru dan dosen pada 2024 serta evaluasi dampak pada 2025, PKJ siap melangkah ke tahap yang lebih luas.

Ke depan, PKJ akan diterapkan secara bertahap dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK di seluruh DIY, sebagai standar pendidikan berbasis budaya di Bumi Mataram.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....