Workshop Wayang Cumplung Meriahkan Pameran Seni Tuwuh Lan Ngrembaka
- 05 Mei 2026 17:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Pameran tunggal Teguh Paino yang bertajuk Tuwuh Lan Ngrembaka tak hanya memamerkan karya sang seniman tetapi juga wadah belajar. Pameran yang digelar dari 27 April hingga 4 Mei 2026 ini juga menghadirkan sejumlah agenda seperti Art Talk dan Workshop Wayang Cumplung.
Art Talk yang digelar 30 April 2026 merupakan ajang diskusi antara seniman, pegiat dan penikmat seni serta pengunjung. Dalam diskusi, Teguh Paino bercerita tentang proses kreatif, ide karya, hingga sudut pandangnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan dirinya dalam dunia seni serta kehidupan pribadinya.
Sementara Workshop Wayang Cumplung diadakan pada 2 Mei 2026. Kegiatan ini menarik antusiasme pengunjung untuk mengenal lebih dekat figur wayang unik hasil kreasi sang seniman.
Wayang Cumplung merupakan inovasi seni pertunjukan yang memanfaatkan limbah alam sebagai bahan utamanya. Berbeda dengan wayang kulit atau wayang golek pada umumnya, figur ini diciptakan dari paduan batok kelapa yang sudah tua (cumplung), sabut kelapa kering, bambu, serta tali. Meski secara visual sepintas menyerupai bentuk jelangkung, Wayang Cumplung memiliki filosofi dan fungsi yang jauh dari kesan mistis.
Teguh Paino, sang kreator sekaligus sosok di balik pameran ini, menjelaskan bahwa Wayang Cumplung lahir dari semangat pemanfaatan bahan di sekitar yang sudah tidak terpakai. Pemanfaatan material dari pohon kelapa ini terinspirasi kehidupan sederhananya di pedesaan Kulon Progo.
"Wayang ini diciptakan sebagai media edukasi. Bentuknya yang sederhana justru memudahkan penonton, terutama anak-anak, untuk masuk ke dalam cerita seni maupun tema-tema sosial lainnya yang bisa disesuaikan dengan audiens," ujar Teguh.
Dalam sesi workshop tersebut, para peserta diajak mempraktikkan langsung cara merakit komponen kelapa menjadi tokoh wayang yang ekspresif. Penggunaan cumplung (tempurung kelapa), sabut kelapa sebagai rambut atau detail pakaian memberikan tekstur alami yang khas, sementara bambu berfungsi sebagai kerangka sekaligus tangkai pemegang.
Kehadiran workshop ini memperkuat pesan utama dari pameran Tuwuh Lan Ngrembaka, yakni tentang keberlanjutan dan proses kreatif yang terus berkembang. Melalui media Wayang Cumplung, seni tidak hanya berhenti sebagai pajangan di dinding galeri, tetapi juga menjadi alat komunikasi instruksional yang interaktif bagi masyarakat luas. Wayang Cumplung juga ditampilkan pada saat pembukaan pameran oleh Jajang Kawentar dengan lakon Wayang Cumplung Edan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....