Stigma Masyarakat Papua di Yogyakarta Diangkat dalam Film Dokumenter

  • 04 Mei 2026 21:33 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Berangkat dari keprihatinan terhadap stigma negatif yang masih melekat pada orang Papua di Yogyakarta, mahasiswa semester enam Program Studi Manajemen Produksi Berita Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta memproduksi film dokumenter sebagai upaya menghadirkan perspektif yang lebih adil.

Film dokumenter berjudul Antara Kami dan Mereka, Catatan Sunyi Perantau dari Timur di Kota Pelajar tersebut menyoroti pengalaman mahasiswa Papua di Yogyakarta, termasuk stereotip yang kerap melekat di tengah masyarakat. Melalui karya ini, tim produksi ingin menyampaikan bahwa tidak semua mahasiswa dari wilayah timur identik dengan perilaku negatif.

Produser dokumenter Sinetta Ahuluheluw mengatakan tema ini diangkat karena adanya perbedaan karakter dan latar belakang sosial yang seringkali memunculkan kesalahpahaman. Ia juga mengakui bahwa isu tersebut tergolong sensitif karena kerap dikaitkan dengan hal-hal negatif yang terjadi pada sejumlah wilayah di Yogyakarta.

“Semoga saja dokumenter kami ini bisa menjadi pelajaran buat anak-anak timur untuk tidak membawakan kebiasaan di sana ketika datang ke lingkungan berada saat ini. Kita di sini itu sebagai anak perantau harus menjadi yang lebih baik di lingkungan di mana kita berada,” ucap Sinetta

Ketua STMM Yogyakarta Dr. R. Muhammad Agung Harimurti Purnomojati mengapresiasi penayangan film dokumenter tersebut. Ia menilai karya mahasiswa tidak hanya layak sebagai tugas akademik, tetapi juga berpotensi dikembangkan lebih jauh.

“Salah satu karya mahasiswa kan mungkin bisa diikutsertakan ke hak cipta gitu ya. Nah itu kira-kira kalau misalkan mahasiswa ada yang tertarik, ya kami dari kampus mendukung, karena ini adalah sebuah perolehan, rekognisi, pengakuan dari HAKI atau dari komunitas yang sejenis dalam mengapresiasi sebuah karya,” ucap Agung.

Dosen pembimbing Drs. Sudono, M.Si. menilai karya mahasiswa telah menunjukkan upaya riset dan pengolahan ide yang baik, meskipun masih memiliki keterbatasan pada kedalaman cerita. Menurutnya, hal tersebut wajar mengingat waktu produksi yang relatif singkat.

“Setengah semester mereka belajar teori, setengah semester membuat karya. Nah, bayangkan satu, mereka hanya setengah semester, hanya dua bulan ya. Ini nanti akan saya minta untuk dipertimbangkan, untuk dipertahankan terus agar mata kuliah produksi dokumenter harus mewujud satu karya dokumenter,” ucap Sudono.

Melalui screening ini, film dokumenter diharapkan tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga membuka ruang dialog yang lebih luas tentang keberagaman, sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah kehidupan masyarakat Yogyakarta. (Aryasena)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....