Malioboro Bergerak: Merawat Budaya, Menyatukan Sejarah dan Gaya Hidup Sehat
- 02 Mei 2026 16:47 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta- Malioboro telah lama dikenal sebagai ikon kebudayaan dan pusat aktivitas masyarakat Kota Yogyakarta yang tak pernah sepi dari dinamika kehidupan. Kawasan ini bukan hanya menjadi ruang publik untuk berekspresi seni, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Sebagai bagian dari Garis Imajiner Yogyakarta yang menghubungkan Laut Selatan, Keraton, dan Gunung Merapi, Malioboro menyimpan makna filosofis yang mendalam. Nilai historisnya semakin kuat karena kawasan ini menjadi jalur utama prosesi tradisi yang terus dilestarikan hingga kini.
Secara etimologis, Malioboro berasal dari kata “Malyabhara” yang berarti jalan berhias karangan bunga, mencerminkan keindahan dan kemuliaan. Lebih dari itu, kawasan ini menjadi wujud nyata pertumbuhan ekonomi sekaligus identitas spiritual yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Yogyakarta.
Dalam rangka menyemarakan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta (Kundha Kabudayan) menginisiasi gerakan partisipatif berbasis budaya. Langkah ini dipandang penting untuk memperkuat literasi budaya dan sejarah melalui keterlibatan langsung masyarakat.
Semangat perjuangan emansipasi Kartini dan cita-cita pendidikan nasional diwujudkan melalui aktivitas edukatif yang ringan dan inklusif. Kegiatan ini dirancang agar masyarakat dapat belajar sambil berpartisipasi aktif dalam ruang publik yang menyenangkan.
Sebagai implementasi nyata, diselenggarakan kegiatan “Move With Culture Gerak Bersama, Merawat Budaya” yang memadukan olahraga dengan edukasi sejarah dan budaya. Melalui jalur pedestrian Malioboro, peserta diajak berolahraga sekaligus memahami nilai seni dan tradisi yang hidup di sepanjang kawasan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran budaya dan pola hidup sehat di masyarakat. Momentum Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional pun diharapkan menjadi pijakan penting dalam menjaga kelestarian warisan sejarah Yogyakarta sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata daerah.
Salah satu peserta Viqa menyampaikan kegiatan ini luar biasa seru, selain antusias peserta yang mengenakan kebaya dan surjan rangkaian acara pun asyik. “Meski baru jalan sebentar diguyur hujan tapi tidak mengurangi semangat kita untuk tetap jalan, akrena asyik rame-rame dengan busana kebaya dan surjan,” katanya Jumat 1 Mei 2026.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....