Pengalaman Unik Mahasiswa Asing Membaur di Jogja
- 01 Mei 2026 09:35 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di tengah dinamika perlintasan perantau global, kemampuan beradaptasi dan melebur dengan budaya lokal menjadi pilar esensial bagi para mahasiswa mancanegara di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam program dialog "Kawruh" di RRI Pro 4 Yogyakarta, Jumat 24 April 2026, yang menghadirkan dua mahasiswa internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) yakni Sundas Ejaz asal Pakistan dan Nicolas Anderson Sobreira Tavares asal Brasil.
Realitas di lapangan pada fase awal kedatangan kerap menghadirkan tantangan adaptasi yang unik, salah satunya dalam hal kebiasaan kuliner lokal. Sundas membagikan pengalaman lucunya saat pertama kali dihadapkan pada masakan daging ayam yang dominan bercita rasa manis, sebuah realitas yang kontras dengan makanan di negaranya. "Karena aku pertama kali mencoba... yang manis. ngga pernah dengar ayam bisa manis kan? So itu pertama kali," ujar Sundas.
Meski dihadapkan pada perbedaan budaya atau culture shock keseharian, rintangan tersebut seketika luruh berkat tingginya toleransi warga lokal. Masyarakat Jogja dengan hangat merangkul dan menyapa ramah para perantau asing sehingga menciptakan zona nyaman yang aman, khususnya bagi mahasiswa perempuan. Sundas sangat mengagumi keterbukaan warga dengan mengatakan, "ketika saya datang ke Indonesia dan Jogja memang itu benar-benar istimewa benar-benar itu seperti multi-culture ada beberapa orang toleransi tinggi dan lumayan mereka hatinya sangat kind very warm warm welcoming," ucapnya.
Sementara itu, Nicolas (Niko) membuktikan bahwa inisiatif untuk turun langsung membaur di ruang publik sederhana, seperti warung nasi kuning, adalah pendekatan yang sangat efektif. Ia menceritakan bagaimana keinginannya belajar bahasa daerah direspons dengan antusiasme luar biasa dari warga sekitar yang saling bahu-membahu mengajarinya. "karena saya juga bilang saya mau belajar bahasa Jawa ya jadi semua orang datang mau ajarin sesuatu dalam bahasa Jawa karena itu saya juga bisa mengerti sedikit bahasa Jawa sedikit," kataNiko.
Interaksi sosial yang erat tersebut pada akhirnya menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap warisan seni dan budaya Yogyakarta. Sundas mengaku sangat terpikat dengan seni membatik dan berniat menciptakan inovasi. "Saya suka membatik itu sangat unik buat sendiri pola-pola dan prosesnya," katanya, dan ia pun menambahkan, "mungkin saya campurkan motif Pakistan dan motif Indonesia,"ucapnya. Di sisi lain, Niko yang memang meneliti kesenian lokal, sangat mengagumi dedikasi para pengrajin di Bantul. "Mungkin wayang topeng, topeng-topeng klasik gaya Yogyakarta yang luar biasa," ujar Niko.
Perjalanan adaptasi Sundas dan Niko menjadi refleksi mendalam bahwa keterbukaan dan keramahan Yogyakarta menciptakan harmoni yang membuat warga negara asing merasa betah. Interaksi tulus di akar rumput ini menjadi penentu lestarinya budaya Yogyakarta yang kelak akan disebarkan oleh para mahasiswa ini sebagai duta budaya di negara asalnya masing-masing.(auliya)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....