Modernisasi Lagu Jawa tanpa Kehilangan Identitas dan Tata Krama
- 01 Mei 2026 09:28 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Musik Campursari dan Tembang Jawa sering kali masih dipandang sebagai kesenian kuno oleh sebagian masyarakat, di mana genre ini sering dianggap cuma diminati oleh kalangan generasi tua. Namun, Ilham Putra Sanjaya hadir untuk mematahkan stigma tersebut melalui karya-karyanya yang mengemas lirik keseharian dengan aransemen kekinian sehingga lebih inklusif dan ramah bagi telinga milenial dan Gen Z.
Dalam bincang-bincang hangat di acara “Kawruh" RRI Programa 4 Yogyakarta Rabu, 29 April 2026, Ilham mengungkapkan bahwa misi utamanya adalah melestarikan budaya dan mengembalikan kebanggaan anak muda untuk mendengarkan serta menyanyikan lagu-lagu berbahasa Jawa tanpa terbentur gengsi zaman.
Mengawali karier bermusik secara otodidak sejak di bangku SMP, musisi independen asal Ampel, Boyolali ini tidak sekadar menciptakan lagu patah hati. Bagi Ilham, indikator keberhasilan sebuah karya seni bukan hanya seberapa viral lagu tersebut, melainkan seberapa dekat liriknya dengan realita kehidupan dan bagaimana karya itu mampu memberikan dampak positif.
"Anak muda di era sekarang lebih fokus pada kisah percintaan. Saya membuat lirik yang sekiranya relate dengan perasaan mereka saat disakiti, lalu divariasikan dengan sentuhan dangdut dan koplo agar pendengar bisa ikut berdendang," ujar Ilham
Kini, lebih dari 40 lagu telah ia ciptakan dan banyak pendengar muda yang mulai menikmati karya-karyanya melalui platform digital. Untuk memastikan karyanya tetap memiliki daya tarik, Ilham berkolaborasi dengan arranger berpengalaman guna memadukan unsur langgam tradisional dengan ketukan nada yang dinamis. Tak hanya berpusat pada narasi patah hati, Ilham juga membekali lagunya dengan muatan lokal, seperti menyisipkan nama wisata Teluk Penyu Cilacap ke dalam lirik sebagai bentuk dukungan promosi pariwisata. Sebagai seniman independen, ia mengelola seluruh prosesnya secara mandiri mulai dari proses kreatif, produksi, promosi, hingga kerja sama endorsement dengan menikmati setiap tahapan secara organik.
Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar, Ilham menekankan bahwa modernisasi lagu Jawa tidak boleh menghilangkan identitas dan tata kramanya. Menanggapi interaksi pendengar yang menyoroti pentingnya menjaga etika lirik, kesopanan visual pemeran di video klip, hingga dorongan untuk mulai menciptakan lagu bertema nasionalisme, ia meresponsnya dengan komitmen kuat.
"Bahasa itu adalah etika utama yang harus dijunjung tinggi di dunia seni musik. Sudah selayaknya kita menampilkan karya yang baik, sopan, dan tidak menjerumuskan ke hal-hal negatif," ujar Ilham
Keberlanjutan seniman kampung seperti Ilham ini menjadi bukti bahwa pelestarian kesenian campursari terus berjalan meski tanpa latar belakang pendidikan formal. Dengan prinsip menjadikan karya sebagai napas hidupnya, Ilham berharap lagu-lagu Jawa dapat terus berkembang, tidak hanya dinikmati dari Sabang sampai Merauke, tetapi juga mampu menembus mancanegara.(galih)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....