Kisah Seru Mahasiswa Asing Beradaptasi dengan Budaya Jogja

  • 01 Mei 2026 09:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID,Yogyakarta - Yogyakarta selalu punya daya tarik yang membuatnya dipenuhi pendatang, tak terkecuali mahasiswa dari luar negeri. Namun, pernahkah terbayang bagaimana rasanya datang dari benua lain lalu tiba-tiba harus menghadapi fenomena keseharian seperti makanan serba manis, cuaca yang sangat terik, hingga budaya "jam ngaret"?

Topik menarik seputar dinamika adaptasi nilai dan etika budaya ini menjadi bahasan utama dalam program dialog "Kawruh" di RRI Pro 4 Yogyakarta pada Jumat, 24 April 2026. Diskusi ini mengupas tuntas pengalaman adaptasi dari berbagai sudut pandang, menghadirkan Kepala Kantor Urusan Internasional UGM, Tyas Ikhsan Hikmawan, S.Si., M.S., Ph.D., beserta dua representasi mahasiswa internasional, yakni Sundas Ejaz, M.Clin. Pharm. dari Pakistan dan Nicolas (Niko) Anderson Sobreira Tavares, M.A. dari Brasil.

Secara keseluruhan, proses membaur dengan kebiasaan lokal di Yogyakarta memberikan warna-warni culture shock tersendiri bagi para perantau asing. Tantangan keseharian biasanya bermula dari hal-hal yang tampak sederhana, seperti makanan dan ketepatan waktu. Bagi mahasiswa mancanegara, menemukan lauk ayam yang dimasak dengan cita rasa manis adalah sebuah kebingungan di awal. "Ngga pernah dengar ayam bisa manis kan? So itu pertama kali," cerita Sundas yang juga harus menyesuaikan diri dengan budaya menunggu lama atau "jam ngaret" hingga kebiasaan membayar parkir di setiap tempat.

Meski diwarnai berbagai tantangan dan kebiasaan baru yang unik, rintangan tersebut luntur seketika berkat tingginya toleransi serta kehangatan warga Yogyakarta. Masyarakat di akar rumput terbukti secara natural merangkul para pendatang ini tanpa pandang bulu. Sundas merasakan betul sambutan warga lokal yang ramah sehingga membuatnya merasa sangat aman dan betah tinggal lama. "Memang itu benar-benar istimewa benar-benar itu seperti multi-culture ada beberapa orang toleransi tinggi dan lumayan mereka sangat apa hatinya sangat kind very warm warm welcoming," ujarnya.

Penerimaan sosial yang terbuka ini juga sangat dirasakan oleh Niko. Keinginan tulusnya untuk memahami budaya setempat direspons dengan antusias oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Berawal dari rutinitas sarapan di warung nasi kuning, Niko justru mendapatkan banyak pelajaran bahasa lokal secara langsung. "Karena saya juga bilang saya mau belajar bahasa Jawa ya, jadi semua orang datang mau ajarin sesuatu dalam bahasa Jawa, karena itu saya juga bisa mengerti sedikit bahasa Jawa," kata Niko.

Tentunya, perbauran sosial yang mengalir secara organik di tengah masyarakat ini tidak lepas dari peran dan fasilitas institusi pendidikan. Universitas memahami bahwa proses adaptasi sangat krusial agar mahasiswa asing tidak hanya fokus secara akademik, namun juga sukses bersosialisasi. Tyas menjelaskan bahwa UGM memiliki program orientasi bernama "Pionir", yang mengajak mahasiswa asing berinteraksi dan mempraktikkan bahasa langsung dengan para petani. Kampus juga mewadahi para mahasiswa asing melalui komunitas ISAGAMA (International Student Association Gajah Mada) sebagai ruang untuk saling berbagi pengalaman sosial dan budaya.

Pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa asing dalam menyelami dan beradaptasi dengan budaya Yogyakarta adalah wujud keberhasilan bersama. Dukungan institusi yang terstruktur berpadu indah dengan keramahan warga di kehidupan sehari-hari. Pengenalan budaya ini diharapkan tidak sekadar menjadi pengalaman numpang lewat, melainkan sebuah investasi hubungan baik antarnegara. Seperti yang ditekankan oleh Tyas di akhir perbincangan, "Harapan kami para mahasiswa ini ketika kembali ini menjadi duta besar budaya duta besar bagi Indonesia maupun Yogyakarta dan UGM pada khususnya." (auliya)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....