Kesaksian Orang Tua Korban Daycare Little Aresha: Anak Trauma, Tak Mau Sekolah
- 26 Apr 2026 08:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kasus dugaan praktik kekerasan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menyita perhatian publik. Selain melayani penitipan anak, tempat tersebut juga membuka layanan pendidikan untuk playgroup dan taman kanak-kanak (TK).
Bella, salah satu orang tua yang pernah menyekolahkan anaknya di sana mengaku terkejut setelah mengetahui kabar tersebut. Ia mengatakan anaknya mengalami trauma hingga saat ini, meski hanya bersekolah selama dua bulan pada tahun lalu.
"Anak saya di gedung lama yang di utara itu. Dia trauma banget," ujar Bella saat ditemui di lokasi, Sabtu, 25 April 2026.
Setelah dua bulan bersekolah di Little Aresha, Bella memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan anaknya di sana. "Baru dua bulan terus keluar. Dia (guru) nanyain terus," Gimana kabarnya? Kok enggak pernah masuk." Saya bilang, "Anaknya ketakutan bu, katanya teman-temannya nakal.". Tapi kenyataannya bukan teman-temannya nakal, ternyata sudah dicuci otaknya ini," ucap Bella.
Ia mengatakan, berdasarkan cerita anaknya, terdapat perlakukan tidak wajar terhadap bayi-bayi di daycare tersebut. Namun, anaknya belum memahami istilah yang tepat untuk menggambarkannya.
"Anak saya bilangnya bukan ditali, tapi diselimuti kakinya. Dia nggak ngerti konsep tali. Ngomongnya bayi-bayi itu nakal semua, jadi diselimuti," katanya.
Pengalaman tersebut rupanya berdampak terhadap kondisi psikologis anaknya. Bahkan hingga kini, anaknya selalu ketakutan setiap kali melewati lokasi daycare.
"Dia traumatis. Jarak tiga rumah sama gedung sekolah, lewat gitu sudah teriak-teriak, memalingkan muka," ucapnya.
Tak mau sekolah
Bahkan, Bella mengungkapkan, anaknya hingga kini enggan bersekolah di mana pun karena menganggap semua sekolah sama. Kondisi itu membuatnya prihatin sebagai orang tua.
"Anak saya nggak mau sekolah sampai sekarang. saya prihatin. Kalau saya mau antar gitu teriak-teriak, nggak mau. Kalau tidur mimpi, nggak mau sekolah, nggak mau sekolah gitu. Tapi paginya tetap saya antar, gurunya ngomong nggak apa-apa bu, namanya anak penyesuaian, tapi kalau pulang happy, dia senyum. Enggak ada curiga. Enggak nyangka," ujarnya.
Dulu, kata Bella, ia memilih sekolah tersebut karena lokasinya dekat dengan rumahnya. Selain itu, ia mengenal sosok sang ketua yayasan yang sangat baik.
"Saya daftar karena dekat rumah. Bu Diyah (ketua yayasan) itu juga orangnya baik banget, lemah lembut seperti ibu peri," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....