Literasi Bergeser, Medsos dan Buku Digital Kian Dominan

  • 24 Apr 2026 13:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Peringatan Hari Buku Sedunia setiap 23 April menjadi momen refleksi terhadap kondisi literasi di Indonesia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya media sosial, cara generasi muda memaknai aktivitas membaca pun mengalami perubahan.

Kini, literasi tidak lagi terbatas pada membaca teks, tetapi juga mencakup bagaimana seseorang berinteraksi dengan beragam sumber informasi. Guru Besar Departemen Sastra dan Bahasa FIB UGM, Aprinus Salam, menilai bahwa kondisi literasi generasi muda tidak bisa dipandang seragam karena dipengaruhi oleh latar belakang, kebutuhan, serta keterlibatan dalam dunia pendidikan.

Ia menekankan pentingnya pengelompokan untuk memahami kondisi tersebut secara lebih menyeluruh. “Generasi muda itu banyak sekali ragamnya. Perlu ada kategori-kategori. Generasi yang masih terikat dengan pendidikan dan keliterasian tentu masih perlu bertahan dalam situasi-situasi literatif, apalagi teknologi saat ini justru mendukung,” ujarnya, Jumat, 24 April 2026.

Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk media sosial, telah membuka peluang baru dalam praktik literasi. Namun, beragamnya karakter konten membuat tidak semua informasi memiliki nilai literatif yang sama. Sebagian masih relevan dengan aktivitas membaca, sementara lainnya lebih menonjolkan aspek hiburan dan kepentingan ekonomi.

“Sebagian media sosial masih bertumpang tindih dengan kondisi-kondisi literate, tetapi banyak juga yang didominasi konten hiburan dan orientasi ekonomi,” ujarnya.

Aprinus juga menyoroti perlunya memperluas pemahaman tentang membaca di era modern. Aktivitas membaca dalam dunia akademik berbeda dengan konsumsi informasi di media sosial, dan perubahan ini diperkirakan akan terus berkembang.

“Kita perlu mengklarifikasi apa yang dimaksud dengan membaca. Ke depan, dalam situasi yang disebut posthumanisme, pengertian literasi akan semakin berubah. Yang penting adalah bagaimana mengintegrasikan manusia, teknologi, dan lingkungan dalam praktik literasi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa media sosial tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi budaya membaca. Justru, platform digital dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi yang saling melengkapi jika dikelola dengan baik.

“Media sosial tidak perlu dianggap sebagai masalah, tetapi sebagai sahabat baru yang perlu diintegrasikan sebagai perangkat hidup yang saling mendukung,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa anggapan penurunan literasi generasi muda tidak bisa digeneralisasi. Keterlibatan dalam membaca sangat dipengaruhi oleh kebutuhan dan konteks masing-masing individu.

“Masalahnya bukan pada membaca atau tidak, tetapi apa yang dibaca dan untuk apa membaca. Tidak ada jaminan orang yang banyak membaca pasti lebih baik,” katanya.

Terkait perdebatan antara buku fisik dan digital, keduanya dipandang sebagai bagian dari budaya yang terus berkembang. Generasi muda cenderung lebih adaptif terhadap format digital, meskipun buku cetak masih memiliki tempat tersendiri.

“Masalah pemahaman dan minat baca lebih bergantung pada situasi sosial serta kapasitas individual, bukan pada medianya,” ujarnya.

Ke depan, penggunaan buku digital diprediksi akan semakin meningkat seiring kemajuan teknologi. Perubahan ini merupakan bagian dari dinamika yang tidak terelakkan, sehingga kemampuan beradaptasi menjadi kunci penting.

“Perlahan, kebudayaan membaca buku digital akan terus meningkat. Sejarah akan bergerak ke arah itu,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....