Sebanyak 63 Persen Distribusi Unggas Terkonsentrasi di Jawa
- 23 Apr 2026 14:52 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan serius akibat dinamika geopolitik global dan perubahan iklim. Kondisi ini berpotensi mengganggu ketersediaan pasokan pangan, meskipun pemerintah terus mendorong swasembada pangan dan energi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat sektor peternakan, khususnya industri unggas, guna menjamin ketersediaan protein hewani seperti daging ayam, telur, dan susu, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Ali Agus, menyampaikan bahwa industri perunggasan Indonesia termasuk yang stabil secara harga di tingkat global. Namun, ia menyoroti distribusi yang belum merata, di mana sekitar 63 persen masih terpusat di Pulau Jawa.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, pemerintah mendorong perbaikan sistem distribusi agar setiap wilayah dapat mandiri dalam penyediaan protein hewani. Strategi ini juga bertujuan mengurangi risiko gangguan logistik dan penyebaran penyakit ternak seperti PMK dan flu burung.
Selain itu, peran BUMN diperkuat dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan, sekaligus membangun infrastruktur pendukung seperti cold storage dan fasilitas pengeringan jagung. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya pakan dan menjaga kestabilan produksi.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia, Achmad Dawami, menegaskan bahwa komoditas unggas merupakan elemen strategis dalam ketahanan protein nasional, dengan kontribusi sekitar dua pertiga konsumsi protein masyarakat berasal dari sektor ini.
Namun demikian, industri unggas masih menghadapi persoalan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang berdampak pada fluktuasi harga dan daya saing.
Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia, Singgih Januratmoko, memperkirakan program Makan Bergizi Gratis akan meningkatkan kebutuhan daging ayam hingga 40 ribu ton per bulan. Program ini dinilai positif untuk mendorong konsumsi protein sejak usia dini.
Meski begitu, ia menyoroti tingginya biaya produksi yang belum sebanding dengan harga jual di pasar. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian regulasi agar posisi peternak rakyat lebih terlindungi. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi peternak, mengingat minat generasi muda di sektor ini masih rendah.
Sementara itu, Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Michael Haryadi Wibowo, mengingatkan bahwa tantangan lain dalam industri unggas adalah manajemen pemeliharaan yang belum optimal serta risiko penyakit.
Ia menekankan pentingnya edukasi bagi peternak terkait manajemen kesehatan unggas, termasuk penerapan biosekuriti yang ketat serta vaksinasi rutin untuk mencegah penyakit seperti Newcastle Disease, Infectious Bronchitis, Avian Influenza, dan Marek’s Disease.
Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan sektor perunggasan nasional dapat lebih merata, tangguh, dan mampu mendukung ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....