Merawat Warisan Budaya lewat Lomba Mewiru Kain Jarik di Hari Kartini

  • 22 Apr 2026 23:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Dharma Wanita Persatuan Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta menggelar kegiatan dengan tajuk “Meneladani semangat kartini untuk perempuan berbudaya dan berakhlak mulia”. Adapun kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan nilai – nilai perjuangan perempuan Indonesia, khususnya terdapat lomba mewiru.

Mewiru merupakan teknik melipat kain jarik yang membutuhkan ketelitian, kerapian serta pehaman terhadap motif batik yang digunakan. Lomba mewiru dipilih sebagai simbol bahwa perempuan tidak hanya berperan dalam kemajuan zaman, melainkan tetap nguri – uri budaya jawa.

Ketua Dharma Wanita Persatuan RRI Yogyakarta, Nita Suhartono, mengatakan bahwa peringatan hari kartini kali ini sengaja dirancang lebih kreatif supaya tidak hanya menjadi seremoni, melainkan dapat membawa nilai edukasi. Menurutnya, hingga saat ini semangat kartini masih sangat relevan bagi perempuan.

“Perempuan Indonesia harus kuat, Tangguh dan mandiri, tapi disisi lain kita juga harus tetap menjaga budaya dan wanita Indonesia harus seperti kartini mempunyai pemikiran yang luas. Dan saya rasa nggak masalah, justru kita bangga dengan kebaya seperti ini bahwa perempuan Indonesia masih meneladani pendahulunya,” kata Nita.

Menurutnya, mengenakan busana tradisional seperti kebaya dan jarik bukan sekedar simbol tetapi bentuk kebanggaan terhadap identitas bangsa. Hal ini sejalan dengan semangat Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan perempuan tanpa meninggalkan akar budaya.

Disisi lain, lomba mewiru ini tak hanya sekedar kompetensi, melainkan menjadi ruang belajar lintas generasi untuk memahami nilai – nilai budaya sekaligus menghidupkan kembali semangat kartini. Dalam konteks budaya, ketepatan melipat kain sangat penting, terlebih jika digunakan dalam acara resmi, khususnya di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Salah satu Juri Mewiru, Sugiman Dwi Nurseto menekankan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk memahami filosofi dalam berbusana tradisional jawa. Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi budaya terutama bagi generasi muda yang ta kanya mengenakan melainkan dapat memahami nilai di bali busana tradisional.

“Karena kain jarik itu ada filosofinya, seperti ini ada yang jarik batik motif wahyu tumurun, dan pada saat kita mewirunya kebalik akhirnya filosofinya akan berubah. Dan inilah kenapa kita perlu mengajarkan belajar untuk mewiru, belajar untuk kerapian juga lebih banyak adalah belajar nilai – nilai filosofi batik itu sendiri,” kata sugiman.

Melalui lomba mewiru yang diselenggarkan di lingkungan RRI Yogyakarta Hari kartini bisa menjadi sarana edukasi dan pelestarian budaya. Di setiap lipatan kain, tersimpan nilai ketekunan, keindahan dan filosofi yang mencerminkan jati diri setiap perempuan Indonesia. (Victorio Firsta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....