Jurus Jitu Kenalkan Jamu untuk Generasi Muda
- 21 Apr 2026 08:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Minuman jamu tradisional sering kali diidentikkan dengan rasa pahit yang lekat dan citra "kuno" yang hanya digemari generasi tua. Namun, Nina Rahayu Purnomo melalui inisiatifnya bersama kelompok Jogja Husada Sehat hadir untuk mendobrak stigma tersebut. Melalui konsep Cafe Jamu, ia membawa minuman kesehatan warisan leluhur ini masuk ke ruang-ruang modern seperti mal dan rumah sakit.
Penggagas brand Wedang Rempah Selaras Ayu ini mengungkapkan saat ditemui RRI Minggu 19 April 2026 bahwa tujuan utama dari inovasi ini adalah untuk memperkenalkan kembali esensi jamu kepada generasi muda tanpa menghilangkan nilai manfaatnya. Baginya, agar jamu tetap lestari, penyajiannya harus beradaptasi dengan gaya hidup masa kini.
"Kita mengonsep jamu agar semua orang senang, termasuk anak muda yang mungkin tidak suka rasa pahit. Melalui modifikasi bentuk dan rasa, kita ingin menanamkan memori bahwa jamu itu enak dan sehat," ujar Nina.
Untuk memastikan jamu dapat diterima secara luas, Nina melakukan transformasi besar pada medium penyajiannya. Jika dulu jamu identik dengan botolan atau gendongan, kini produknya hadir dalam bentuk Artisan Tea atau teh rempah premium. Menggunakan bahan-bahan alam seperti jahe, kencur, kapulaga, hingga bunga telang, jamu-jamu ini dikemas secara praktis dalam bentuk tea bag yang elegan.
Inovasi ini juga menyentuh aspek edukasi dengan menghadirkan sosok Barista Jamu. Para penyaji dilatih khusus agar memiliki keterampilan teknis dalam meracik jamu layaknya barista kopi di kafe-kafe modern. Hal ini menjadikan proses pembuatan jamu sebagai tontonan seni yang menarik bagi pengunjung.
Kebebasan berekspresi juga tampak pada menu-menu yang ditawarkan. Nina menciptakan narasi baru melalui nama-nama menu yang puitis dan karakter rasa yang unik, seperti Tirta Jawi, Biru Prameswari, hingga Tamomil Lembah Mana yang memadukan bunga kamomil dengan kayu manis. Bahkan, tradisi ini dikembangkan lebih jauh menjadi produk turunan yang akrab dengan lidah semua kalangan, seperti es krim jamu dan puding jamu.
"Anak muda sekarang sebenarnya banyak yang suka jamu, asalkan dikemas dengan cara yang relevan bagi mereka," katanya.
Langkah ini juga menjadi gerakan taktis untuk mengintegrasikan jamu ke dalam sistem kesehatan modern. Saat ini, Jogja Husada Sehat tengah menjalin kolaborasi dengan berbagai rumah sakit Islam di Yogyakarta untuk menghadirkan pojok jamu sebagai alternatif minuman sehat bagi pasien dan pengunjung.
Ke depannya, Nina berharap jamu tidak lagi sekadar menjadi jamu "obati sakit", melainkan menjadi rutinitas gaya hidup sehat yang bisa dinikmati siapa saja dan di mana saja. Dengan semangat modernisasi ini, ia menargetkan agar memori tentang 'jamu' sebagai warisan budaya bangsa tetap hidup dan terus berevolusi di tengah arus zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....