Menepis Stigma Pahit, Jamu Kini Jadi Tren "Wellness" Masa Kini

  • 20 Apr 2026 10:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kesan jamu sebagai minuman pahit yang hanya dikonsumsi saat sakit perlahan mulai luntur. Hal ini tergambar jelas dalam kemeriahan acara "Pasar Jamu" yang digelar di pelataran Pasar Ngasem, Yogyakarta, pada Sabtu 18 April 2026 hingga Minggu 19 April 2026 Melalui kolaborasi lintas sektor, jamu kini bertransformasi menjadi gaya hidup atau wellness lifestyle yang menyasar generasi muda.

Acara yang diprakarsai oleh UPT Pusat Bisnis Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta ini merupakan bagian dari rangkaian "Beringharjo Great Sale". Menghadirkan 28 tenant yang terdiri dari UMKM jamu, praktisi pengobatan tradisional, hingga konsultan spiritual, Pasar Jamu sukses mengubah wajah pasar tradisional menjadi ruang edukasi kesehatan yang interaktif.

Salah satu sorotan utama dalam festival ini adalah inovasi produk turunan jamu. dr. Mega, Founder Jumbuh, mengungkapkan bahwa bahan-bahan alam Nusantara kini bisa diekstraksi menjadi berbagai produk gaya hidup sehari-hari.

"Jamu itu artinya jampi atau ramuan tradisional. Jadi bukan hanya sekadar diminum," kata dr. Mega dalam sesi Talkshow Inovasi Jamu Masa Kini. Ia mencontohkan produk tembakau Srintil asal Temanggung dan kemenyan (frankincense) yang disuling menjadi minyak atsiri, parfum, hingga dupa aromaterapi untuk meningkatkan fokus dan meditasi.

Bergesernya jamu ke ranah gaya hidup harian oleh pakar medis. Prof. Dr. apt. Mae Sri Hartati W., M.Si, Wakil Ketua Dewan Jamu sekaligus Ketua Pusat Kedokteran Herbal FK-KMK UGM, menegaskan bahwa jamu sangat aman dikonsumsi sebagai langkah preventif (pencegahan).

Berbeda dengan obat herbal terstandar atau fitofarmaka yang berupa ekstrak murni, jamu tradisional umumnya berupa seduhan. "Kandungan zat aktif yang masuk tidak sebesar dalam bentuk obat tertakar. Makanya jamu itu lebih ke menyegarkan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan tidak menimbulkan efek samping berlebih jika dikonsumsi wajar," ujar Prof. Mae.

Ia juga menepis rumor bahwa jamu merusak ginjal, selama produk tersebut dibuat dengan standar higienitas yang baik dan tidak dicampur bahan kimia obat.

Kehadiran inovasi jamu ini menjadi angin segar di tengah keprihatinan atas gaya hidup anak muda. Seperti yang disampaikan salah satu pembicara di acara tersebut Dr. dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, Sp.DLP, AAK, menyoroti tren konsumsi minuman manis kemasan, rokok, dan vape yang memicu lonjakan kasus cuci darah di usia produktif (30-an tahun).

"Anak muda sekarang senang nongkrong dengan minuman yang tinggi gula. Kalau dikonsumsi setiap hari, itu menjadi diabetes yang merusak ginjal. Anak muda yang butuh semangat, jangan selalu lari ke kopi atau rokok, beralihlah ke temulawak. Temulawak itu ginseng-nya orang Indonesia," kata Bondan.

Dengan kemasan modern, pendekatan estetika yang catchy, dan variasi rasa yang diramu ala cafe, Pasar Jamu di Pasar Ngasem membuktikan bahwa warisan leluhur bisa terus lestari tanpa harus ketinggalan zaman. Jamu bukan lagi sekadar obat tradisional di dalam botol kaca, melainkan identitas kebanggaan yang merawat generasi bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....