Penguatan Pendidikan Pancasila Jadi Kunci Cegah Perpecahan Bangsa

  • 17 Apr 2026 14:26 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Penguatan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan kebangsaan dinilai menjadi kunci penting dalam menjawab berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Hal ini disampaikan oleh Dr. Hastangka, S.Fil., M.Phil., dalam dialog interaktif “Siaran Kawruh” Pro 4 RRI Yogyakarta, Jumat 17 April 2026. Menurut Hastangka, Pancasila sebagai dasar negara sejatinya telah dirancang secara kokoh oleh para pendiri bangsa sebagai ideologi pemersatu. Namun, ia menyoroti adanya paradoks di tengah masyarakat, di mana tingkat komitmen terhadap Pancasila tergolong tinggi, tetapi di sisi lain muncul kekhawatiran besar terhadap potensi perpecahan bangsa.

“Data survei menunjukkan lebih dari 90 persen masyarakat memiliki komitmen terhadap Pancasila. Tapi pada saat yang sama, tingkat kekhawatiran terhadap perpecahan juga sangat tinggi. Ini menunjukkan ada celah dalam internalisasi nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya. Hastangka menjelaskan, salah satu penyebab kondisi itu adalah melemahnya pendidikan kebangsaan pasca reformasi, terjadi kekosongan ideologis yang kemudian diisi oleh berbagai pengaruh eksternal, termasuk arus informasi yang tidak terfilter seperti hoaks.

Hastangka menekankan bahwa pendidikan Pancasila tidak boleh berhenti pada aspek formalitas semata, seperti pemenuhan kurikulum atau mata Pelajaran, karena pendidikan harus mampu menanamkan pemahaman yang mendalam serta mendorong implementasi nilai dalam kehidupan sehari-hari.

“Pengetahuan saja tidak cukup. Harus ada penghayatan dan tindakan nyata. Kalau tidak, Pancasila hanya berhenti sebagai slogan,” ujarnya. Selain itu, beliau juga menyoroti lemahnya mental kebangsaan yang tercermin dari tingginya kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman dari luar negeri. Kondisi ini menunjukkan rendahnya rasa percaya diri sebagai bangsa besar.

“Secara geografis dan sumber daya kita kuat, tapi secara mental kita belum siap. Ini berkaitan dengan kegagalan membangun karakter bangsa secara sistematis dan berkelanjutan,” jelasnya. Beliau juga menambahkan, bahwa pembangunan karakter atau nation and character building yang pernah disampaikan oleh para pendiri bangsa perlu kembali menjadi perhatian utama. Menurutnya program-program pembinaan mental kebangsaan selama ini masih belum terstruktur dengan baik.

Dalam konteks generasi muda, Hastangka mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah pemuda mencapai puluhan juta. Namun, tanpa pembinaan yang tepat potensi itu berisiko tidak terarah. “Pemuda kita adalah kekuatan besar. Tapi kalau tidak dibekali nilai kebangsaan yang kuat, justru bisa menjadi titik lemah,” ujarnya

Ia juga menyinggung pentingnya refleksi terhadap model pendidikan masa lalu, seperti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Menurutnya, meskipun memiliki kekurangan, pendekatan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk merumuskan metode baru yang lebih relevan dan kontekstual.

Hastangka juga mengatakan bahwa, penguatan pendidikan kebangsaan ke depannya harus dilakukan secara masif, sistematis, berkelanjutan dan mampu menyesuaikan dengan karakter generasi muda yang kritis dan terbuka. “Pancasila harus dihadirkan dalam kehidupan nyata bukan cuma dihafal. Kita butuh pendekatan yang logis, rasional, dan menyentuh kesadaran generasi muda” katanya. Melalui upaya tersebut , ia berharap nilai-nilai Pancasila dapat benar-benar tertanam kuat dan mampu menjadi fondasi dalam menjaga persatuan serta memperkuat jati diri bangsa di tengah dinamika global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....