Cemaran E-Coli Tinggi, Penyakit Diare di Kota Yogyakarta Tembus 2.534 Kasus
- 15 Apr 2026 18:33 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat tingginya angka penyakit diare sepanjang tahun 2026. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu menyebut kasus diare mencapai 2.534 kasus. Dia merinci sebanyak 975 kasus terjadi pada Januari, 810 kasus terjadi pada Februari, dan 749 kasus terjadi pada Maret 2026.
Endang menuturkan kasus diare terbilang fluktuatif, tapi terbilang tinggi kasusnya lantaran telah mencapai lebih dari 1.000 kasus. Kasus diare yang dicatat adalah kasus secara umum. Lalu, surveilans akan dipantau apakah diare disertai dengan dehidrasi atau tidak. Tak hanya itu, pada kondisi tertentu surveilans juga diberikan zinc agar diare tak kambuh.
Endang menambahkan, tingginya kasus diare ini tak lepas dari tingginya cemaran bakteri Escherichia Coli (E-Coli) pada air tanah di Kota Yogyakarta. Selain itu, ada pula pengaruh faktor perilaku dan gaya hidup. Sejumlah upaya ditempuh Dinkes Kota Yogyakarta untuk menekan angka cemaran bakteri E-Coli. Misalnya dengan pemasangan chlorine diffuser pada sumur. Di sisi lain, mulai 2024 pihaknya juga telah menggencarkan pemberian vaksin Rotavirus.
“Banyak penelitian yang menyebutkan penyebab diare juga dari virus ya. Jadi kemudian diberikanlah vaksin Rotavirus untuk pencegahan diare mulai dari umur 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan,” kata Endang saat ditemui di Kantor Dinkes Kota Yogyakarta, Selasa, 14 April 2026.
Endang menjelaskan, sebagian masyarakat telah beralih menggunakan aliran air PDAM. Namun, tak jarang juga masyarakat justru memanfaatkan air PDAM bukan untuk dikonsumsi, tetapi untuk mandi dan mencuci. Sementara, sebagian warga Kota Yogyakarta lainnya masih menggunakan air sumur.
Endang mengimbau masyarakat untuk merebus air sumur hingga mendidih terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Peralatan makan yang dicuci menggunakan air sumur pun harus dipastikan kering dan dilap menggunakan kain bersih sebelum digunakan.
“Memang cukup banyak ya yang mempengaruhi. Selain itu air, barang-barangnya, lalu tangan kita (harus bersih), memang cukup banyak faktor itu,” ucap Endang.
Sebelumnya, Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Intan Dewani mengatakan hampir semua atau 99 persen air sumur di Kota Yogyakarta tercemar bakteri E-Coli. Ini didapatkan usai DLH melakukan uji sampel pada 700 air sumur yang tersebar di Kota Yogyakara. Selain E-Coli, sebanyak 80 persen sumur juga tercemar kandungan nitrat yang melebihi baku mutu.
“Cemaran bakteri E-Coli salah satunya disebabkan oleh kondisi saptic tank yang terlalu berdekatan,” kata Intan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....