Smart Mobility Jadi Arah Baru, Yogyakarta Masih Hadapi Berbagai Tantangan

  • 13 Apr 2026 15:30 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi (FSTPT) menggelar seminar nasional yang berfokus pada smart mobility atau mobilitas cerdas dan keselamatan jalan, Sabtu, 11 April 2026. Bertempat di Gedung Djarnawi Hadikusuma UMY, forum bertajuk “Implementeasi Smart Transportation dalam Menjawab Tantangan Aksesibilitas dan Keselamatan Jalan” ini membedah bagaimana teknologi cerdas seharusnya bekerja di lapangan.

Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa pondasi utama mobilitas cerdas bukanlah sekadar perangkat canggih, melainkan integrasi sistem yang kuat. Ia mencontohkan keberhasilan konektivitas antara bandara dan kereta api (rail link) di Yogyakarta yang kini menjadi pilihan rasional masyarakat.

Namun, Ni Made tidak menampik bahwa transportasi publik di Yogyakarta masih memiliki tantangan besar. "Kita punya 128 unit Trans Jogja, namun belum menjadi pilihan utama masyarakat. Kualitas layanan memang harus segera di-upgrade agar mampu bersaing dengan kendaraan pribadi,” ujarnya.

Pemda DIY berencana melakukan peremajaan armada melalui pengadaan bus listrik pada tahun 2027. Meski tahap awal direncanakan baru enam unit karena kendala anggaran, Ni Made memandang langkah ini sebagai awal transisi penting bagi DIY.

Sementara itu, Dr. Eng. Ir. IB Ilham Malik, IPM., ASEAN Eng., dari Center fot Urban & Regional Studies (CURS) ITERA, menyoroti kondisi riil kemacetan di kawasan perkotaan dan destinasi wisata Yogyakarta. Untuk mengatasinya, pemerintah tengah berupaya menerapkan strategi Avoid, Shift, Improve.

“Salah satu kebijakan nyata adalah pemberlakuan tarif parkir tinggi di kawasan pusat kota, khususnya Sumbu Filosofi, agar masyarakat beralih ke transportasi umum,” kata Ibnu.

Meski demikian, ia mengakui adanya dilema struktural di mana Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sangat bergantung pada pajak kendaraan bermotor, yang justru berseberangan dengan upaya menekan jumlah kendaraan di jalan.

Di sisi lain, Guru Besar Teknik Sipil UGM, Prof. Danang Parikesit, menekankan bahwa transformasi transportasi tidak boleh hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tata kelola. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang efektif dan inklusif.

Dengan demikian, mewujudkan smart mobility di Yogyakarta memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari analisis perilaku pengguna berbasis AI, peningkatan layanan fisik, hingga keberanian kebijakan yang mampu mengurai ketergantungan pada kendaraan pribadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....