Tangani Siswa Belum Mahir Calistung, Disdik Gandeng Ortu dan Dinkes
- 12 Apr 2026 16:30 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman terus memperkuat upaya penanganan siswa SD dan SMP yang belum terampil membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Penanganan ini menyasar baik siswa berkebutuhan khusus maupun siswa reguler yang mengalami ketertinggalan.
Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SD Dinas Pendidikan Sleman Akhmad Ritaudin mengakui masih ditemukan siswa SD di jenjang kelas 3 hingga 4 yang belum lancar membaca. Kondisi tersebut banyak dijumpai pada siswa kategori slow learner yang masuk melalui jalur afirmasi dalam sistem penerimaan murid baru.
“Memang kami temukan anak-anak slow learner yang sudah kelas 3 atau 4 belum bisa membaca. Itu menjadi perhatian kami untuk ditangani secara khusus,” ujar Akhmad.
Menurutnya, penanganan dilakukan dengan memberikan capaian pembelajaran yang berbeda dari siswa pada umumnya. Guru juga didorong untuk menggunakan metode asesmen yang lebih fleksibel misalnya dengan wawancara dan melihat kemampuan yang dimiliki anak serta tidak hanya berbasis tes tertulis.
Akhmad menambahkan, pihaknya juga akan memperkuat sinergi lintas sektor, salah satunya dengan Dinas Kesehatan. Kolaborasi ini dilakukan untuk melakukan asesmen awal terhadap siswa berkebutuhan khusus saat proses penerimaan murid baru.
“Kami akan menggandeng Dinas Kesehatan untuk memastikan kesiapan siswa dan sekolah, sehingga penanganannya lebih tepat sejak awal,” kata Akhmad.
Sementara, Dinas Pendidikan juga mendorong sekolah untuk memberikan tambahan waktu belajar di sekolah bagi siswa reguler yang belum lancar membaca. Program ini dilakukan melalui kolaborasi antara guru dan orang tua dengan konsep bimbingan belajar gratis di luar jam pelajaran.
“Guru bisa memberikan tambahan waktu satu hingga satu setengah jam setelah jam sekolah untuk membantu anak-anak yang belum lancar membaca,” kata Akhmad.
Jika dalam proses pembelajaran masih ditemukan siswa yang belum menguasai calistung, intervensi lanjutan akan dilakukan melalui pengawas sekolah. Intervensi tersebut berupa pengayaan atau tambahan jam belajar yang lebih intensif.
“Kalau masih ditemukan di kelas 2 atau 3 belum bisa membaca, maka akan ada intervensi berupa pengayaan dengan tambahan jam belajar,” ucap Akhmad.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....