Rupiah Melemah, Harga Pangan Ikut Terancam Naik?

  • 26 Mar 2026 13:43 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan nasional. Fluktuasi kurs dinilai memberi tekanan pada sistem pangan, terlebih Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis seperti kedelai, gandum, dan bawang putih. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan pangan maupun input produksi berpotensi meningkat dan berdampak langsung pada harga di tingkat konsumen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika ekonomi global memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan pangan dalam negeri. Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Hani Perwitasari, menilai situasi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi menekan sistem pangan nasional.

Dari sudut pandang agribisnis, ia menjelaskan bahwa dampak fluktuasi nilai tukar terhadap harga pangan tidak seragam. Besarnya pengaruh sangat ditentukan oleh jenis komoditas dan kondisi ketersediaannya di dalam negeri. Komoditas dengan pasokan cukup cenderung lebih stabil meskipun terjadi tekanan kurs, sedangkan keterbatasan pasokan dapat memperbesar risiko kenaikan harga di pasar.

“Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,” ujarnya, Rabu, 25 Maret 2026.

Lebih lanjut, Hani menuturkan bahwa tingkat kerentanan tiap komoditas juga berbeda. Produk yang sulit digantikan dan sangat bergantung pada pasokan tertentu akan lebih sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Dalam kondisi demikian, kenaikan biaya akan lebih cepat diteruskan ke harga jual.

“Komoditas yang paling rentan seperti daging, kemudian telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah ini,” ucapnya.

Ia menambahkan, kondisi ini tidak terlepas dari struktur pangan nasional yang masih mengandalkan impor. Ketika produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan, impor menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan. Namun di sisi lain, ketergantungan tersebut meningkatkan risiko terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi kurs.

“Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” kata Hani.

Selain berdampak pada harga pangan, pelemahan rupiah juga memengaruhi biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan. Sejumlah input produksi masih terhubung dengan pasar global sehingga sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Kenaikan harga input ini pada akhirnya meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha.

“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ucapnya.

Dalam jangka pendek, pengendalian harga dinilai menjadi langkah penting untuk meredam dampak pelemahan rupiah. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan data yang akurat terkait produksi dan kebutuhan pangan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran, termasuk dalam menentukan kebutuhan impor.

“Kalau kurang ya perlu impor, kalau tidak kurang ya tidak perlu impor, sehingga kebijakan bisa diambil dengan lebih tepat,” ujarnya.

Sementara itu, untuk jangka panjang, penguatan produksi pangan domestik menjadi kunci utama. Dukungan terhadap petani melalui akses pembiayaan, subsidi input seperti pupuk dan benih, serta perlindungan melalui asuransi pertanian perlu terus ditingkatkan. Stabilitas harga di tingkat petani juga penting agar sektor ini tetap menarik secara ekonomi.

“Peran seluruh pihak termasuk konsumen juga penting, karena memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....