Sampah Lebaran Capai 20 Ton/hari, DLH Yogyakarta Pastikan Depo Aman
- 25 Mar 2026 16:09 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tren peningkatan produksi sampah saat momen libur lebaran 2026 di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mencatat ada kenaikan sebanyak 7 persen perhari.
Kepala DLH Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq mengatakan, peningkatan produksi sampah di Kota Yogyakarta masih didominasi sampah rumah tangga. Menurutnya, peningkatan sekitar 7 persen perhari ini rata-rata sekitar 20 ton.
"Kalau libur lebaran, saat H-1 sampai H+1 itu masih stabil. Kemudian di H+2 sampai ke sini itu ada tambahan tapi enggak banyak, paling sekitar 7 persen atau sekitar 20 ton, per hari," katanya, Rabu, 25 Maret 2025.
Rajwan menyebutkan, peningkatan jumlah sampah selama libur lebaran ini diakui jauh berbeda jika dibandingkan pada momen yang sama tahun sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan tidak berpengaruhnya kondisi depo di Kota Yogyakarta.
"Tidak mempengaruhi depo, artinya sampah itukan sebagian besar dari rumah tangga, sama dari tempat makan, dan lain sebagainya. Sehingga seperti skema yang sudah kita terapkan sebelumnya berhenti di titik-titik kumpul kelurahan," ucapnya.
Dengan kondisi yang terjadi saat ini, Rajwan juga mengucapkan terima kasih, atas dukungan yang luar biasa baik dari masyarakat maupun wisatawan yang peduli dengan sampahnya. Karena menurutnya, kepedulian bersama dengan adanya tujuh antisipasi untuk minim sampah baik mudik maupun warga masyarakat yang dikeluarkan Pemkot Yogyakarta dilaksanakan dengan baik.
"Itu juga diikuti dengan gerakan MAS JOS juga. Ini sampah Idulfitri ini lebih sedikit daripada sampah Idulfitri di tahun yang lalu, sudah berkurang banyak," ujarnya.
Rajwan menyampaikan, dengan ada tambahan sekitar 20 ton, rata-rata perhari produksi sampah di Kota Yogyakarta perhari sekitar 320 ton. Sedangkan untuk peningkatan sepenuhnya tertangani melalui offtaker yang mengambil di titik kumpul Kelurahan setempat.
"Dari offtaker itukan macam-macam itu. Ada yang langsung digunakan untuk pakan ternak. untuk pakan ternak kemudian ada yang untuk pakan magot, ada yang kemudian menjadi pakan pelet dan lain sebagainya," ujarnya.
Rajwan juga mengungkapkan, penanganan sampah melalui skema Maggot di Kota Yogyakarta juga menunjukkan dampak positif. Hal ini dikarenakan pengusaha sudah mulai berkembang.
"Pengusaha maggot di Kota Yogyakarta sekarang sudah mulai banyak, dan pembeli maggot sendiri juga sudah mulai banyak," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....