Fahmi Zubir Sampaikan Esensi Takwa sebagai Integritas Jiwa Muslim di Idulfitri

  • 20 Mar 2026 11:34 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Gema takbir bersahutan menyambut hari kemenangan, menyatukan warga dalam suasana khidmat dan penuh rasa syukur. Meski Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kali ini ada perbedaan, tetapi hal tersebut tidak mengurangi esensi makna lebaran bagi sebagian besar umat muslim.

Ribuan umat muslim melaksanakan salat Id dengan khusyuk di lapangan parkir dan kompleks Masjid Al-Karim Padukuhan Pogung Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman, DIY, Jumat, 20 Maret 2026. Bertindak sebagai Imam dan Khatib Ustaz Fahmi Zubir, Lc., MA, salat Id berlangsung mulai pukul 06.30 WIB.

Dalam khotbahnya, Ust. Fahmi Zubir menyampaikan pesan mendalam tentang esensi ketakwaan yang dihasilkan dari pelatihan selama 30 hari di bulan Ramadan. Dalam khotbahnya, ia menegaskan, bahwa takwa bukan sekadar simbol lahiriah, melainkan integritas jiwa yang mampu mengontrol diri dari perilaku negatif.

"Takwa itu bukan berarti dari penampilan tapi berada dari integritas jiwa, takwa itu berarti bisa dia menahan nafsu, menahan emosi, menahan amarah, mengontrol dirinya untuk tidak berbuat curang, tidak ada korupsi, tidak ada sogok-menyogok, tidak ada menyakiti yang lain. Takwa karena merasa dilihat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala," katanya.

Ust. Fahmi Zubir menekankan, ketakwaan tidak hanya menjadikan pribadi menjadi saleh, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri serta orang lain, dengan memberikan kebaikan-kebaikan yang bisa dirasakan.

Takwa Sebagai Benteng Penyakit Mental

Di era modern saat ini, tidak sedikit masyarakat di dunia ini mengalami gangguan kesehatan mental atau mental illness. Dalam kondisi Ust. Fahmi Zubir membandingkan kondisi di negara maju Amerika Serikat dengan Indonesia.

"Di tengah gaya hidup yang individualis dan konsumeris, banyak orang mengalami gangguan kesehatan mental karena jauh dari Tuhan. Di Amerika, sekitar 25 persen orang dewasa mengalami mental illness. Di Indonesia pun angkanya mencapai 10 persen," ujarnya, dihadapan jemaah.

Gaya hidup yang konsumeris atau gaya hidup maunya belanja atau berpenampilan yang berlebihan, ada rasa iri melihat tetangganya punya sesuatu, dan merasa ketinggalan zaman juga menjadi gaya hidup individualis, konsumeris. Sehingga selama puasa di bulan Ramadan, dijelaskan Ust. Fahmi Zubir, saatnya umat muslom kembali kepada jati diri, memiliki empati, dan menjadi pribadi yang baik dan semakin dekat dengan Allah SWT.

Ust. Fahmi Zubir kembali mengingatkan, dengan ketakwaan setiap muslim merasa diawasi dan merasa selalu dekat dengan Allah SWT. Dengan ketakwaan manusia tidak melakukan kejahatan, tidak melakukan korupsi, tidak melakukan pencurian, dan tidak menindas rakyat.

"Pengaruh takwa ini bisa membuat peradaban. Pengaruh takwa dalam diri seseorang bisa membuat kehebatan-kehebatan, inovasi, hingga penemuan-penemuan," ucapnya.

Ust Fahmi Zubir mencontohkan sistem yang dibuat oleh Umar bin Khattab dengan ketegasan dan ketakwaannya mampu membuat peradaban yang luar biasa, peradaban yang adil. Hingga saat ada orang Yahudi yang rumahnya sempat diambil oleh Amru bin Ash, mengadu kepadanya.

Umar bin Khattab kemudian melihat secara rinci kasusnya yang dihadapinya, ternyata ada kesalahan di pemikiran gubernurnya Amru bin Ash. Pada waktu itu, Umar bin Khattab memberikan tulang kepada orang Yahudi untuk diberikan kepada Amru bin Ash.

"Amru bin Ash ketika menerima tulang yang sudah sudah digaris-tergaris itu, gemetar, menetes air matanya. Orang Yahudi ini semakin bingung, enapa engkau menangis ketika mendengar suara? Engkau tahu, ini menandakan bahwa saya nanti akan mati menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala, saya harus bersikap lurus, adil, istikamah, jujur, tidak korupsi, tidak curang, tidak menyakiti yang lain, maka, khalifah saya memberikan tanda garis lurus. Saya harus adil, saya harus jujur, tidak ada korupsi, tidak ada yang macam-macam, tidak boleh mengambil harta masyarakat. Kemudian yang ketiga, kalau seandainya saya tidak lurus, maka saya akan terkena pedang khalifah yang tajam, setajam memberikan tanda di tulang yang keras ini," ujarnya.

Dalam khotbahnya Fahmi Zubir juga berpesan, ketakwaan mengantarkan umat untuk empati, untuk selalu memikirkan orang lain, berpuasa melatih untuk bisa menahan diri. Di momen ini ia mengajak seluruh umat muslim untuk mendoakan, Palestina sebagai penjaga terdepan warisan umat Islam Masjid Aqsa yang saat ini ditutup Zionis Israel.

"Sekali lagi, baik untuk diri sendiri dan muslim baik untuk orang lain. Bagaimana menciptakan peluang-peluang kebaikan untuk orang lain, membantu orang lain, membangun peradaban yang berjuang di pemerintahan, jadikan pemerintahan yang bersih, yang memiliki amanah di birokrasi, jadikan pemimpin yang jujur," katanya, menambahkan.

Ust. Fahmi Zubir juga mengingatkan, pasca bulan Ramadan, kebiasaan baik harus selalu diteruskan, jangan pernah berhenti membaca Al-Qur'an dan puasa sunah. Di hari kemenangan melawan hawa nafsu, dari rasa lapar, dari rasa marah, sehingga kita harus menjaga untuk 11 bulan selanjutnya menjadi orang yang baik, terjadi perubahan dalam diri dan perubahan dalam masyarakat dan negara Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....