Puasa, Dari Ritual ke Transformasi Sosial

  • 14 Mar 2026 13:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis : banyak sekali orang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga. Dari hadis ini hendaknya manusia bermuhasabah apakah ibadah yang dilaksanakan selama bulan Ramadan telah memberikan dampak positif bagi dirinya dan orang lain. Atau justru semuanya terasa tidak bermakna karena seseorang menjalankan hanya sebatas untuk melalui ritual ibadah di bulan suci ini. Hal ini disampaikan Ustadzah Hj. Siti Majidah, Lc, MA dari Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat Aisyiyah.

Pada hakikatnya puasa adalah transformasi dari ritual untuk menahan lapar dan haus serta sarana untuk perubahan spiritual atau batiniah. Puasa mendidik bagaimana seseorang mengendalikan diri, menumbuhkan empati, meningkatkan integritas dan mendekatkan diri kepada Allah.

Perubahan ini bisa terlihat ketika adanya kepedulian sosial, menumbuhkan kejujuran dalam diri dan ada transformasi watak menjadi individu yang lebih pengasih dan bertakwa setelah Ramadan. Hal ini disampaikan dalam surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan puasa itu adalah la'allakum tattakun, supaya kalian menjadi manusia yang bertakwa.

Allah memerintahkan manusia berpuasa agar bisa menahan nafsu. Manusia memiliki tiga nafsu dalam diri. Pertama adalah nafsu amarah, yaitu nafsu yang selalu mendorong kepada kemaksiatan. Nafsu ini mengendalikan hati, tubuh, pikiran, dan jiwa. Contohnya, ketika ada orang yang melakukan korupsi. Maka ada peperangan dalam jiwanya. Rohnya mungkin menolak dan mencela, Namun fisiknya mengatakan, "Supaya untuk melakukan itu." Karena ada kebutuhan materi yang dibutuhkan. Ada keinginan untuk memenuhi syahwatnya. Sehingga nafsu Ini memenangkan pertarungan untuk melakukan maksiat meskipun jiwa ataupun hati kita menolak.

Yang kedua yaitu nafsu lawamah yaitu jiwa yang terbelenggu. Jadi ada pertarungan yang seimbang antara jiwa dan fisik. Jiwa atau roh seseorang mencela apa yang dilakukan fisik. Tetapi kemudian tetap saja kalah tapi ada rasa penyesalan. Misalnya ketika seseorang berbohong, awalnya tidak ingin melakukan itu. Tetapi kemudian tetap berbohong. Kemudian muncul rasa penyesalan.

Tetapi terkadang juga tidak ada rasa untuk menyesalinya. Kadang juga tidak mensyukuri nikmat, selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Kedua nafsu ini dinamakan dengan hati yang sakit atau tumitul qalub, Obatnya adalah dengan berpuasa.

Jadi puasa tidak hanya menahan fisik saja. Tetapi untuk mengobati dua nafsu di atas tidak cukup hanya dengan puasa. Harus menguatkan rohnya dengan membaca Al-Qur'an. Seperti penggalan ayat berikut : Syahru ramadan alladzi unzila fihi Al-Qur'an huda linnas wa bayyina tim minal huda. Bahwa pada bulan suci Ramadan, Allah menurunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia.

Al-Qur'an berfungsi untuk memperkuat ruh dan juga fisik untuk meraih takwa. Maka ada tiga cara memperlakukan Al Qur’an. Yang pertama adalah menjadikan Al-Qur'an sebagai huda atau petunjuk. Yang kedua, menjadikan Al-Qur'an sebagai bayyinati minal huda atau petunjuk hidup manusia. Ketiga adalah menjadikan Al-Qur'an sebagai furqan yaitu menjadi pembeda. Ketika umat Islam sudah memahami isinya, sudah memahami perintah dalam Al-Qur'an, maka manusia akan bisa membedakan yang halal dan haram. Mana yang batil dan mana yang hak, mana yang harus diikuti dan mana yang harus dijauhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....