Umat Hindu DIY Gelar Melasti Perdana di Pura Segoro Wukir Pantai Ngobaran

  • 04 Mar 2026 09:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Debur ombak Pantai Ngobaran menjadi saksi dimulainya rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pada Selasa 3 Maret 2026, ribuan umat Hindu tumpah ruah mengikuti upacara Melasti perdana yang dipusatkan di Pura Segoro Wukir, Gunungkidul.

Upacara sakral ini dipimpin langsung oleh Shri Bhagawan Ratu Dalem Manik Mahakerti, dengan didampingi oleh para Jro Gede dan Pinandita. Ritual Melasti bertujuan sebagai sarana penyucian diri (Bhuana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung) sebelum memasuki masa Catur Brata Penyepian.

Dalam sambutannya, Munaji selaku Panitia Nyepi Gunungkidul sekaligus pelaksana ritual, menyampaikan apresiasi atas antusiasme umat dan tamu undangan yang hadir untuk menjaga kekhidmatan prosesi ini.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi mendalam. Beliau menekankan bahwa Melasti bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan implementasi nyata dari ajaran Tri Hita Karana.

"Melasti adalah wujud permohonan penyucian diri kita sekaligus bukti keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Kami sangat mendukung kegiatan ini karena juga memperkuat posisi Gunungkidul sebagai destinasi wisata religi yang inklusif," ujar Bupati Endah.

Acara ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat dan tokoh penting, di antaranya Mukhotip (Kepala Kemenag Gunungkidul), Didik Widya Putra (Pembimas Hindu DIY), Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia(PHDI) DIY AKBP (Purn) I Nengah Lotama, S.Ag dan Ketua panitia Nyepi DIY 2026 I Gusti Nengah Sutartha, Ketua WHDI DIY serta pejabat FORKOpimcam Saptosari (Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon Saptosari, Gunungkidul.

Dalam sesi Dharma Wacana, Didik Widya Putra mengingatkan umat bahwa Melasti adalah momentum penting untuk membuang segala kotoran batin. "Ini adalah langkah awal kita menyambut Nyepi dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang," tuturnya.

Sebagai puncak acara, seluruh umat mengikuti prosesi Labuhan di bibir Pantai Ngobaran. Dengan iringan doa dan sesaji, ritual ini melambangkan pelarungan segala sifat buruk ke laut lepas agar berganti dengan anugerah kesucian.

Acara berlangsung dengan tertib dan damai, mencerminkan semangat toleransi yang kuat di Bumi Handayani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....