Pengembangan Seni Musik Tradisional
- 02 Mar 2026 15:22 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Musik tradisional seringkali dianggap sebagai warisan masa lalu yang kaku dan sulit bersaing dengan arus modernisasi. Namun, Dr. A.M. Susilo Pradoko, M.Si., hadir membawa perspektif baru bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang mati, melainkan entitas yang harus terus berdialog dengan zaman agar tetap memiliki ruh di hati generasi muda.
Dalam bincang-bincang hangat di acara "Kawruh" RRI Pro4 Yogyakarta, Senin, 2 Maret 2026, Dosen Universitas Negeri Yogyakarta tersebut mengungkapkan bahwa pengembangan musik tradisional merupakan langkah krusial untuk menjaga identitas bangsa di tengah gempuran globalisasi dan teknologi.
Bagi Dr. Susilo, musik tradisional harus mampu bertransformasi, baik dari segi wujud, fungsi, hingga cara penyajiannya. Ia mencontohkan bagaimana angklung yang dulunya hanya digunakan dalam ritual panen padi dengan tangga nada pentatonis, kini telah berevolusi menjadi instrumen diatonis yang mampu memainkan lagu-lagu modern hingga merambah ke panggung internasional.
"Satu sisi kita menjaga tradisi, tapi di sisi lain perubahan-perubahan itu juga patut kita akses. Karena perubahan budaya itu pada akhirnya mengakibatkan perubahan perilaku pikir kita," ujar Dr. Susilo
Fenomena adaptasi ini juga terlihat pada penggunaan teknologi digital di kalangan akademisi. Dr. Susilo menceritakan kekagumannya saat melihat mahasiswa menggarap iringan tari menggunakan gamelan digital yang secara audio hampir tidak bisa dibedakan dengan logam aslinya. Tak hanya itu, ia pun menyoroti kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang kini mulai merambah dunia komposisi musik.
Meski teknologi ini kerap dipandang sebagai ancaman bagi seniman, Dr. Susilo justru menekankan pentingnya penguasaan teknologi sebagai alat bantu. "AI itu sebagai tools saja. Seberapa pun kemajuannya, yang pintar tetap manusianya. Kita harus pintar mengarahkan dan menuliskan prompt-nya. Tidak masalah menggunakan AI untuk alur berpikir, asalkan bukan sekadar menjiplak," katanya.
Dalam sesi interaksi dengan pendengar, muncul sebuah gagasan besar mengenai perlunya pembangunan Laboratorium Musik di Yogyakarta. Hal ini didasari oleh kekayaan sejarah musik nusantara, di mana Dr. Susilo sendiri menemukan setidaknya 11 jenis alat musik kuno yang terukir indah pada relief Candi Prambanan.
"Ide laboratorium musik ini luar biasa. Kita bisa mewujudkan kembali instrumen dari abad ke-7 atau ke-9 tersebut untuk ditampilkan kepada wisatawan. Saya siap menyumbangkan data dan foto hasil penelitian saya untuk mewujudkan itu,"ujarnya dengan semangat.
Menutup dialog, Dr. Susilo menekankan bahwa pengembangan musik tradisional bukan berarti menghilangkan nilai filosofi yang diwariskan leluhur. Justru, inovasi adalah bentuk penghormatan agar musik tersebut tetap hidup, relevan, dan terus menjadi fondasi bagi jati diri bangsa yang dinamis.
Dengan semangat kreativitas tanpa batas, pengembangan seni musik tradisional diharapkan mampu menjadikan Yogyakarta sebagai pusat ekosistem budaya yang tidak hanya menjaga masa lalu, tapi juga memimpin masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....