Makna Sumbu Filosofi Yogyakarta, Begini Penjelasannya
- 27 Feb 2026 10:14 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO PBB pada akhir tahun 2023. Yaitu Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Kawasan ini, pertama kali dicetuskan Sri Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Raja pertama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu juga dikenal sebagai arsitek.
Paniradya Pati Kaistimewaan DIY Kurniawan menyampaikan, penataan kota saat itu tidak dilakukan secara acak. Namun berlandaskan filosofi kehidupan yang mendalam.
”Sumbu Filosofi Yogyakarta merepresentasikan hubungan yang harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam,” katanya, Jumat 27 Februari 2026. ”Ini sekaligus menggambarkan perjalanan hidup manusia atau Sangkan Paraning Dumadi.”
Kawasan Sumbu Filosofi, tersusun atas tiga penanda utama. Posisinya membentang dari utara ke selatan dalam satu garis lurus atau biasa disebut Garis Imajiner.
Masing-masing memiliki makna filosofis yang saling terhubung dan berkesinambungan. Misalkan Sangkan atau asal mula kehidupan manusia yang diwakili bangunan Panggung Krapyak di sebelah selatan keraton.
Kemudian Paran atau tujuan, yaitu perjalanan akhir manusia menuju Sang Pencipta. Istilah ini direpresentasikan bangunan Tugu Pal Putih (Golong Gilig) di utara keraton.
Sedangkan Dumadi atau proses menjadi, yang berarti Eksistensi manusia di dunia. Istilah ini diwakili Keraton Yogyakarta sebagai pusat, tempat manusia menjalani hidup, membangun keselarasan, dan mencari kesempurnaan spiritual.
”Kawasan ini diposisikan sebagai ruang hidup yang terintegrasi dengan nilai spiritual, sosial, dan budaya,” katanya. ”Untuk menjaga keselarasan tersebut, pengembangan kawasan dilakukan secara terarah dan berbasis data."
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....