PBTY XXI Berbalut Nuansa Ramadan, Budaya dan Takwa Jalan Beriringan

  • 26 Feb 2026 15:10 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) kembali digelar dan resmi dibuka, Rabu malam, 25 Februari 2026. Ketua Umum Panitia PBTY XXI Tahun 2026 Jimmy Sutanto menjelaskan nantinya PBTY akan dilaksanakan selama 7 hari hingga 3 Maret 2026. Sebanyak 120 UMKM juga ikut serta dalam gelaran ini. Selain itu, ada pula Pawai Malioboro Imlek Karnaval pada 28 Maret, pameran otomotif, hingga pertunjukan culinary street war dari berbagai chef dan foodies.

“Dengan mengusung tema Warisan Budaya Kekuatan Bangsa, kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan lawan dalam untuk bersatu, melahirkan kekuatan untuk saling melengkapi,” ujar Jimmy saat membuka gelaran PBTY 2026 di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu malam, 25 Februari 2026.

Jimmy menambahkan, PBTY tak sekadar menjadi perayaan budaya, tetapi juga simbol harmoni keberagaman serta semangat kebersamaan di Kota Yogyakarta sebagai city of tolerance. Tahun ini menjadi kali pertama PBTY dilaksanakan bersamaan dengan bulan Ramadan. Untuk itu, terdapat berbagai kegiatan ngabuburit yang dilaksanakan selama PBTY.

“Ada kegiatan ngabuburit sehat, ngabuburit dongeng anak. Ada pameran artefak, berkas pandu Tionghoa, dan masih banyak lagi,” kata Jimmy.

Sementara, Gubernur DIY Hamengkubuwono X menyebut PBTY tahun ini sangat bermakna, mengingat pelaksanaannya yang bersamaan dengan suasana Ramadan. Menurutnya, kegiatan ini menjadi penanda kebudayaan dan ketakwaan yang dapat jalan beriringan. Sebab, ruang budaya tetap terbuka lebar ketika umat muslim tengah menjalankan ibadah puasa.

“Bahkan PBTY meghadirkan tausiah berbagi takjil dan kegiatan kebersamaan lainnya,” ucap Ngarsa Dalem.

Di sisi lain, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga menyebut PBTY menjadi penggerak roda perekonomian. Utamanya bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, perajin, dan seniman yang tetap diberi ruang untuk berkarya. Pergerakan ekonomi juga tidak hanya terasa di Ketandan, tapi juga menjalar di sekitarnya. Sedangkan, dari sisi budaya, PBTY turut menampilkan Wayang Potei yang tampil berdampingan dengan kesenian Jawa.

“Semuanya menjadi bukti bahwa perjumpaan budaya bukan sekedar koinsistensi. Itulah lini masa proses kreatip yang melahirkan kesejahteraan dan memperkaya peradaban,” ucap Sultan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....