Sebanyak 637 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Global

  • 25 Feb 2026 15:32 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Isu pangan bukan lagi persoalan satu sektor, melainkan tantangan bersama umat manusia. Assistant FAO Representative (Programme) FAO Indonesia sekaligus alumnus Fakultas Pertanian UGM angkatan 1986 Dr. Ir. Ageng Setiawan Herianto, mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 637 juta penduduk dunia yang mengalami kekurangan pangan.

“Ada 637 juta orang di dunia yang mengalami kekurangan pangan setiap tahunnya, terutama di kawasan Asia Pasifik. Dan ini tidak bisa dibebankan hanya kepada lulusan pertanian,” ujar Ageng saat memberikan pembekalan kepada 1.353 calon wisudawan Program Sarjana dan Sarjana Terapan Universitas Gadjah Mada, Selasa, 24 Februari 2026, di Grha Sabha Pramana.

Ageng menjelaskan, sistem rantai pasok pangan memiliki peran krusial dalam menentukan distribusi pangan bagi kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut mendorong terjadinya perubahan besar dalam paradigma ketahanan pangan global. Jika sebelumnya fokus utama adalah bagaimana “feed the world”, kini bergeser menjadi upaya untuk “nourish the world”.

“Tidak cukup hanya memberikan pangan agar tidak kelaparan, tetapi bagaimana caranya menyediakan pangan yang sehat dan aksesibel bagi seluruh lapisan,” ujarnya.

Ia menambahkan, arah pengembangan sistem pangan kini mengedepankan pola makan sehat yang terintegrasi sejak tahap produksi hingga ke pasar. Sistem pangan mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi yang sehat dan berkelanjutan. “Perubahan ini membuka ruang kolaborasi multidisiplin yang sangat luas,” ucapnya.

Menurut Ageng, digitalisasi pertanian menjadi salah satu pintu masuk penting bagi generasi muda dari berbagai latar belakang keilmuan. Lulusan teknik dapat berkontribusi pada efisiensi rantai pasok, lulusan ekonomi dan bisnis memperkuat pembiayaan serta pasar, sementara lulusan hukum berperan dalam aspek regulasi dan kebijakan pangan.

Menjawab pertanyaan calon wisudawan terkait kompetensi global, Ageng menekankan tiga pilar utama yang harus dimiliki sumber daya manusia unggul. “Pertama, selalu berpikir inovatif karena gagasan adalah hal yang penting. Kedua, memahami kebijakan agar dapat beradaptasi. Ketiga, membangun jejaring yang luas. Jangan lupa untuk senantiasa menunjukkan ketertarikan dan komitmen sehingga orang akan percaya dengan integritas kita,” ujarnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing agar gagasan dapat diterima di tingkat internasional. “Kecerdasan tanpa kemampuan komunikasi justru akan sulit membawa dampak positif yang luas,” katanya.

Ageng menutup pembekalan dengan menegaskan bahwa gelar akademik bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab sosial yang lebih besar. Ketahanan pangan merupakan agenda global yang menuntut kontribusi lintas disiplin, mulai dari produksi, kebijakan, hingga digitalisasi. Dengan inovasi, komitmen, dan jejaring yang kuat, lulusan UGM diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi menuju sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....